Kamis, 20 Juni 2013

Ketika Hati dan Cinta Bungkam

06.38

Share it Please
Memang, suaranya yang merdu itu membuat hatiku nian teriris. Banyak syair yang ia ciptakan tentang glamornya serta betapa etisnya kata ‘cinta’ melalui ekspresi yang berbeda-beda pula. Setengah lagu belum selesai, membuat aku muak dan ingin aku pecahkan saja vas bunga dihadapanku yang ada diatas meja belajar. Syair itu semuanya palsu bagiku, hanya bualan seorang musisi yang dulunya hanya seorang melarat yang kini telah berubah menjadi kaya raya penuh kemegahan. “Lelaki yang setia, bertanggung jawab, dan dapat mengerti wanita sepenuhnya”, hanya omong kosong yang terlalu dilebih-lebihkan oleh kebanyakan kaum hawa yang terbuai manisnya kata cinta. Padahal mereka tidak tahu kalau buaya sedang bermain api dibelakang mereka. Sampai pada akhirnya aku junjung sombongku bahwa aku bisa membalas dendam sakit hatiku meski bukan kepada buaya yang telah menerkam setengah hatiku. Melainkan kepada buaya-buaya lapar yang lainnya diluar sana. *** “Fan? Apakah kamu mau menyiapkan pesta untuk ulang tahunku nanti?” Pintaku kepada Irfan, kekasihku, dengan wajah berharap. “Maaf Nes, aku lagi nggak pegang uang bulan ini. Apalagi aku harus bayar uang kuliah nanti.” Jawab Irfan penuh wajah memelas. Sebelum Irfan menjawab, sebenarnya aku sudah tahu akan jawabannya. Yah, beginilah susahnya kalau berhubungan dengan anak kuliahan seperti Irfan yang berasal dari keluarga pas-pasan pula. Terkadang aku ingin sekali meninggalkannya, namun jika diingat akan pengorbanannya yang selama ini menjadi wadah air mata akan tangisku, aku sangat tidak tega. Bahkan terkadang disaat dia harus sibuk dengan kuliahnya, aku begitu sangat merindukannya. “Iya, aku paham kok.” Jawabku singkat. Terkadang setelah Irfan menjemputku sepulang sekolah, ia akan mengajakku pergi makan siang ketempat yang menurutku memang sangat membosankan. Sepiring bakso dan segelas teh es akan mewarnai kebosanan dan kekesalanku tersebut. Tapi hal itu akan segera terobati karena pada sorenya aku pasti akan berjalan-jalan kepantai, cafe, mall, ataupun ke tempat-tempat mahal yang lainnya. Rio, ya, kekasihku yang satu ini akan menjemputku dengan motor merah besar yang banyak membuatnya dikagumi oleh banyak wanita. Tidak seperti Irfan yang hanya membawa motor butut agar untuk aku tumpangi. Dendamku terhadap masa lalu membuat aku begitu tidak menyegani seorang lelaki. Anggapan bahwa semua lelaki ‘sama’ sudah merekat erat dalam fikiranku. Terkadang hati dan otak bertengkar hebat karena perdebatan yang tidak pernah ada balasan ataupun penyelesaiannya. Tapi fikiran secara rasional serta pengalaman pasti akan menuntun kita ke arah yang jauh lebih baik dari sejarah buruk yang pernah dirasakan. Apalagi lagu-lagu buaya itu masih saja terniang diujung otakku, membuat kawah sedemikian dalamnya dibagian saraf menuju hatiku. Bukan dengan motor butut ataupun motor merah besar saja akan coba aku perbudak. Tapi, mulai dari ketua osis, ketua kelas, dan kapten basket yang bermobil sekalipun tak luput dari pandangan inisiatifku untuk dapat melampiaskan dendam kusumat yang tengah menghujamku. Tetapi harus aku akui bahwa disetiap malam aku hanya akan menangis sendu, bersama itu pula egois dan dendam atas sakitku datang menjelma bagai tamu yang tak diundang, hingga disaat setelahnya aku akan tertawa terbahak-bahak dengan bekas air mata tangis tawar. Aku merasa sangat puas dengan apa yang dendamku perintahkan. “Karena kamu, maka semua orang sepertimu akan aku buat sama sepertiku”, ucapku setelah musisi amatiran itu kudapati muncul disalah satu stasiun televisi swasta. Lima hati digenggamanku tak kan mudah membayar sakit hati yang aku rasakan sebelum aku hancurkan perasaan mereka satu persatu. Tidak ada yang mengerti betapa sakitnya aku. Cinta hanyalah sebuah kata kecil dikamus besar ataupun ensiklopedia semata. Tatanan kata-kata selembar kertaspun hanya akan mewakili satu kata, yaitu ‘cinta’. Begitu pula surat-surat ataupun pesan-pesan singkat yang berisikan kalimat-kalimat cinta pemberian dari Irfan. Jujur harus aku katakan kalau terkadang aku hanyut olehnya. Lebih dari sebuah syair ataupun lagu seorang musisi. Kata-katanya sangat bermakna dengan diwarnai kata-kata islami yang menurutku itu sangat menyentuh sampai menembus dendamku yang berada dipangkal perasaan dan fikiranku. Menjadi seorang istri yang berahklah mulia, menyanjung tinggi suaminya, dan menjadi seorang bidadari surga bagi seorang imam keluarga. Meskipun itu hanya sebuah ancang-ancang fikiranku saja, tetapi aku berharap itu semua akan terwujud suatu saat nanti. Bersujud dihamparan sajadah lusuh lamaku, aku mantabkan jiwa ini agar menghempas jauh-jauh segala dendam kusumat yang aku miliki. Hanya kepada-Nya aku berserah diri, dihadapan-Nya aku mengakui segala kebodohan akan semua perasaan yang telah aku renggut. Seorang lelaki tak akan membuatku berjalan gontai beralaskan dendam. Aku lepaskan satu persatu hati merah tua yang memang tidak aku damba dari genggaman tangan dendamku. Beberapa diantaranya sama saja, ‘buaya’. Rio dan Irfan masih aku genggam dengan eratnya, tapi bukan dalam rengkuh dendam atau kesalku, tapi perasaan usang yang kemarinnya aku yakini masih berada dikamus besar. *** Malam ini adalah hari ulang tahunku, aku kira yakin Irfan tidak akan menghubungiku karena sibuk dengan kuliahnya. Tapi ternyata aku salah, Irfan tiba-tiba meneleponku agar dapat bertemu dengannya ditempat biasa. Begitu pula dengan Rio yang setelahnya menelepon untuk menjemputku dipesta ulang tahunku yang sudah dipersiapkan olehnya. Dengan segala pemikiran yang aku rancang dengan matang, hingga pada akhir dari segala keputusanku, aku akan memilih “Dia!”. Dengan semeringah dan hati yang mantab aku langkahkan kakiku untuk menuju sebuah cafe yang sudah Rio katakan di telepon. Sesampainya, aku sangat terkejut dengan apa yang Rio suguhkan kepadaku. Tempat yang romantis, Kue yang sangat besar, serta alunan biola menghiasi ulang tahunku malam ini. Aku sangat begitu senang, dan dalam hati aku berkata, “Aku tidak salah pilih.” Tatapannya yang indah menghanyutkanku, senyumnya meninggikan angan-anganku, dan hatiku tidak berhenti berdegup kencang saat ia kenakan sebuah cincin emas dijari manisku. Dalam keindahan pada saat itu, sebelum aku tiupkan api mungil dengan do’aku, tiba-tiba seorang wanita seumuran denganku datang menghampiri kami yang lalu menarik lengan baju Rio serentak menghempaskan tangan tepat diwajah Rio. Cekcok pun tidak dapat dihindari. Awalnya aku sangat bingung dengan apa yang terjadi, hingga akhirnya semua terbongkar dan aku mulai paham bahwa sekali ‘buaya’ tetaplah ‘buaya’. Sudah tidak ada kepercayaan lagi dalam hatiku. Dendamku perlahan kembali merasuk perlahan namun pasti. Akan tetapi, entah mengapa aku teringat akan Irfan yang tengah menungguku disebuah warung bakso tempat biasa ia membuat aku merasa bosan. Langit semacam mengerti apa yang aku rasakan. Awannya akan menurunkan sejuta butiran air harapan yang kini salah satunya menyentuh tepat dipipiku. Terang lampu kota semakin nampak benderang karena langit mulai nampak gelap. Angin yang menusuk kulit, juga menyapu rambutku dengan mesranya. Hatiku sekejap berdegup kencang, aku sedih tapi tidak menangis. Separuh hatiku masih berharap kepada bayangan Irfan yang semakin lenyap dalam gelap malam. Lalu sebuah pesan masuk ke ponselku. “Nesvi? Maafin aku ya kalau aku punya salah sama kamu. Aku memang bukan apa-apa dibandingkan dengan Rio, Frank atau kapten basket kamu itu. Tapi aku janji akan terus menyayangi kamu meski aku pergi sangat jauh sekalipun. Happy Birthday to you, My Dear.” Langsung saja spontan aku kaget dengan nafas sengalku tanpa berani menekan tombol apapun diponselku. “Apa? Bagaimana bisa Irfan tahu semuanya? Mungkinkah dia sudah tahu ini dari awal?” gejolak fikirku. Dengan air mata yang mulai berlinang, aku berlari sekencang mungkin memecah malam menuju warung bakso yang biasanya membuatku bosan, tempat biasa aku dan Irfan bertemu. Akan tetapi, aku tidak dapati Irfan disana. Yang aku temukan hanyalah sebuah kue kecil dengan lilinnya yang sudah padam. Ibu tua yang aku ketahui adalah pemilik warung bakso datang menghampiriku dengan mata yang sembab nan muram. Ia memberikan sebuah boneka beruang bewarna cokelat, warna kesukaanku. Ibu tua itu berkata tapi lidahnya tak berbicara, pandangannya sangat dalam menusuk retinaku. Bibirnya gemetar memberikan isyarat seakan berkata, “Pergilah! Pergilah! Kejar dia Nes!”. “Det, det, det” Ponselku bergetar karena sebuah panggilan dari Ponsel Irfan yang langsung saja aku angkat, “Halo Fan? Kamu dimana sih? Aku menunggu kamu disini.” tanyaku sambil menangis tersedu. “Benar ini keluarga Saudara Irfan? Irfan baru saja mengalami kecelakan . . .” seperti petir yang menyambar jantungku. Dengan tangis yang menjadi, tidak aku hiraukan lagi ponselku yang masih tersambung. Bersama boneka yang aku yakini pemberian dari Irfan, Aku pecah kembali malam dan jalan yang kini sudah didera hujan deras. Sampai dekat pada sebuah pertigaan jalan aku temui ramai orang tengah bergerumun. Aku dapati orang yang baru saja sangat aku sayangi tergeletak tidak bernyawa berlumuran darah yang menganak sungai tersiram deras hujan. Meski gontai, aku tetap membelah gerumunan dan kemudian bersimpuh disampingnya. Aku peluk erat boneka beruang pemberian Irfan yang kemudian tanpa sengaja bernyanyi riang. “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Nesvi. I love You My Dear.” TAMAT

0 komentar: