Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

Jika Hari Esok tidak Pernah Datang

Kadang-kadang larut malam aku berbaring dan terjaga, melihat istriku dalam tidurnya. Dia tenggelam dalam mimpi yang damai. Jadi aku mematikan lampu dan berbaring dalam gelap. Lalu ada yang melintasi pikiranku, bagaimana jika aku tidak pernah bangun di pagi hari, apakah ia pernah meragukan tentang yang kurasakan? Tentang dia di hatiku.

Jika esok tak pernah datang...

Apakah dia tahu betapa aku mencintainya? Apakah aku sudah mencoba segala cara untuk menunjukkan kepadanya setiap hari, bahwa dia begitu kucintai? Dan jika waktuku di bumi telah habis, dan dia harus menghadapi dunia ini tanpa diriku, apakah cinta yang kuberikan di masa lalu akan cukup untuknya bertahan?

Jika esok tak pernah datang...

Aku sudah pernah kehilangan orang-orang yang kucintai dalam hidupku. Siapa yang pernah tahu betapa aku mencintai mereka? Sekarang aku hidup dengan penyesalan, bahwa perasaan yang sebenarnya untuk mereka tidak pernah terungkap. Jadi aku membuat janji untuk diriku sendiri, untuk mengatakan setiap hari betapa ia berarti bagiku. Dan menghindari keadaan di mana tidak ada kesempatan kedua untuk mengatakan padanya bagaimana yang kurasakan.

Jika esok tak pernah datang...

Jadi, katakanlah kepada seseorang yang Anda cintai. Pikirkanlah..., jika esok tak pernah datang.
No comments

Kamis, 20 Juni 2013

Teman yang Sejati

    Tak kala, Kubenamkan kegundahanku kedalammu,
    Tak kala, dalam kesendirianku bercurah hati kepadamu,
    Saat aku terjatuh terbentur batu siksa,
    Saat aku melambung jauh dalam khayalan semu,
    Aku tau kau akan hadir dan akan selalu menjadi begitu.
         Dalam rindu yang merajam batinku,
         Kau masih bersikap sama,
         Dalam purnama yang penuh cinta,
         Kau jua masih bersikap seperti itu,
         Dan aku tau kau akan tetap selalu begitu walau tanpa waktu.
    Mereka nian tidak pernah berhenti menginjak – injak asaku,
    Mereka jua semakin membias waktu sedihku,
    Mereka pula yang membuatmu membulatkan tekadku,
    Dan mereka jugalah yang membuatmu menjadikan hati ini kuat,
    Aku, mereka, dan wujudmu adalah bagian dari puisiku.
         Ceritaku, mimpiku, cintaku, juga sedih dan dukaku selalu menghadirkanmu,
         Kesedihan dan bahagiaku adalah wujudmu,
         Butiran – butiran cinta dan do’aku adalah arti bagimu,
         Sungguh hadirmu munajat akan rasa gemetar hebat batinku,
         Air mataku . . .
No comments

Penjara Jiwa

Aku sibakan tirai panggung kehidupan dalam catatan diaryku
Aku tuliskan sebuah cerita lampau dengan torehan tinta yang abadi
Aku coret tulisanku yang salah dengan tinta maaf
Aku benahi tulisan yang kurang dengan tinta harapan
Aku tambahkan pula kata-kata pantas dengan tinta terimakasih
  Tak sengaja aku buka halaman yang lama terlupakan, terpendam dalam kelam
  Teringat pandangan mata memesona yang pernah menjadikan aku kuat
  Kuat akan seribu satu cemoohan, hujatan akan semua luka yang membekas erat
  Masih tersisa serpihan-serpihan bekas kaca yang bersemayam dalam jantungku
  Membuang pun tidak bisa, memungut pula menambah luka
Ingin ku malam tiba membias kegalauan dari mata ini, walau sejenak
Menghanyuti kegelisan nasib, menyeret tanganku jauh
Sakiti tubuh, memenjarakan jiwa, masuki dunia yang tidak nyata
Satu dalam asaku, selalu aku mencoba bebas dari jeritan panjang
Tenggelam ku dalam lautan duka
Tanpa pelukan, sentuhan, dan tatapan rindu dengan kasih sayang
Titik puncak keputusasaan menjelma, titisan dewa menyentuh kalbu
Menggenggam hati dan cita, mengumpat kepedihan menaungi sumpah
Bukti seribu satu luka akibat gagak-gagak berparas dara tanpa dosa
Biar aku bungkam! Toh, aku rasa bukan hak mereka mencambuk jalanku
Aku jejali mulut-mulut itu dengan sejuta kertas surat dari surga
Aku bawa mereka terbang dengan sayap gelak tawa mereka sendiri
Tidak perlu langit ketujuh, cukup langit pertama
Dengan hebat aku hempaskan gagak kecil ini sampai mencumbu bumi
                   Bedebah! . . .
                   Kini Akulah seorang raja
                   Rakyat jelata tak lagi sebagai tanda asa dan tahta
                   Aku muak, aku benci, sebab taman surga tidak lagi menyapa
Cinta dan kasihmu lebih menjelma jiwa dalam penjara
Ini bukan caraku,
Ini bukan penyelesaian akhir kisahku,
Aku adalah aku, bumi dan langit adalah pelajaranku
Neraka dalam asa sudah berhenti bicara, kini tinggallah surga
        Kata maaf tak lagi berguna dalam dongeng belaka
Harapan ku merantai menjiwa tanpa gembok penjara
Dan kamu! kamu! kamu! . . .
Terimakasih telah mengajarkan aku arti dari sebuah kesabaran
No comments