engkau sang dewi
pijar matamu,bak sungai yang mengalir di tanah
surga
lalu aku,ibarat ikan yang hidup didalamnya
begitu damai kau berikan aku kehidupan
dan inginku hidup selamanya
menjalani bahtera cinta dipucuk sungai keabadian
itu
duhai engkau sang dewi...
"Gimana menurutmu sat, baguskan puisi yang dikirim oleh orang
itu?"
"Ah, biasa aja gin. kamu aja yang kehebohan. hehe..."
Itu adalah puisi ke enam yang dikirimkan oleh seseorang kepada sahabatku,
Gina. Selama satu bulan ini sudah enam puisi bernada cinta yang dikirimkan
untuk sahabatku itu. Dan seperti biasa, setelah mendapat kiriman puisi Gina
pasti bercerita dan menunjukkan puisi itu kepadaku. Gina bercerita betapa
senangnya ia mendapat kiriman puisi dari seseorang yang ia sebut sebagai Secret
Admire. Gina memberi julukan kepada si pengirim puisi tersebut berdasarkan
inisial S.A yang selalu dibubuhkan di bawah puisi-puisi yang
dikirimkannya. Ekspresi kesenanganya itu terpancar jelas dari bibirnya yang
selalu ia lengkukan hingga membuat simpul senyum dibibirnya. Sebuah senyum
tulus yang tak pernah aku lihat selama kurun waktu hampir satu tahun ini.
***
Namaku adalah Satria. Aku berteman dengan gina sejak dari kelas tiga SMA.
Hingga sekarang aku telah bekerja di sebuah perusahaan percetakan, sedangkan
gina memilih untuk melanjutkan kuliahnya. Wwalaupun telah terpisah jarak,
tetapi komunikasi antara kami tak pernah terputus. Saat gina sedang dilanda
permasalahan baik dalam urusan keluarga ataupun kuliahnya, ia pasti mencurahkan
permasalahanya itu kepadaku. Yah, walaupun aku tak bisa memberikan solusi yang
tepat, tetapi menurut gina aku adalah seorang pendengar yang baik. Dan aku
memang selalu ingin menjadi pendengar yang baik untuknya.
Hubunganku sangat dekat dengan gina. Aku ingat, dulu waktu semasa SMA
teman-teman kami sering memperolok kami pacaran, bahkan mereka mengatakan kami
adalah pasangan yang serasi. Tetapi, aku menghormati gina yang selalu menganggapku
sebagai sahabat terbaiknya. Dan hingga kini, kami masih berkomitmen untuk
selalu menjadi sahabat yang saling menyayangi.
Pada saat kelulusan SMA, Gina pernah bercerita kepadaku bahwa ia telah
jadian dengan seorang cowok yang sudah lama ia taksir. Gina selalu mengatakan kepadaku,
betapa ia sangat mencintai kekasihnya. Hubungan itu berlangsung
selama dua tahun dan mereka sudah sama-sama yakin akan cintanya masing-masing,
hingga akhirnya sebuah kejadian tragis memisahkan cinta mereka berdua.Satu
tahun yang lalu, kekasih Gina meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sepeda motor
yang dikendarainya itu oleng dan terserempet oleh sebuah bus yang sedang melaju
kencang. Peristiwa tersebut terjadi ketika kekasihnya itu bermaksud menjemput
gina untuk menuju ke kampusnya.
Gina
sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Betapa, kesedihanya sangat ku rasakan
kala itu. Semenjak itu, Gina menjadi seorang yang pemurung. Bahkan, sesekali ku
temukan ia dalam keadaan menangis di kamarnya pada saat aku menjenguknya.
Keadaan itu berlangsung selama kurang lebih satu tahun, dan sebagai sahabat
yang menyayanginya, aku tak bisa membiarkan gina seperti ini seterusnya.
Diam-diam, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan mencarikan seseorang yang
pantas menggantikan kekasih gina dahulu, seseorang yang bisa membuat sahabatku,
Ragina Putri Oktavia kembali menjadi gadis yang ceria. Ya, aku akan mencarikan
seorang kekasih untuk sahabatku.
Tak ku sangka, puisi-puisi kiriman S.A mampu membuat gina kembali tersenyum, walaupun
terkadang ia masih terlihat sedih takkala mengingat kejadian lampau. Tetapi ku
pikir, ini adalah langkah awal yang baik. Dan ku pikir pula, pilihanku memilih S.A adalah
langkah yang tepat. Hari ini, sepulang kerja sengaja aku mampir sebentar
kerumah gina. Kulihat gina sedang menggenggam setangkai mawar ditangan kanannya
dan sebuah kertas ditangan kirinya.
"Cie,cie...yang
sekarang punya Secret Admire. Seneng banget kayaknya." aku mengagetkan
gina yang disambut senyum sumringah darinya.
"Eh,
iya nih sat. Secret Admireku baru aja mengirimkan aku puisi dan bunga mawar
ini." jawab gina seraya menyodorkan kertas yang ada ditangan kirinya. Ku
baca isi kertas itu dengan seksama.
jikalau kau adalah bunga mawar
maka kau adalah mawar tak berduri
yang selalu menyerbakkan harum di taman cintaku
tanpa pernah menusuk ketulusanku dengan duri-duri kebencian
hanya engkau yang akan kujadikan bunga terindah
yang tak akan pernah ranum oleh masa
"Gimana
sat?" Gina bertanya pendapatku tentang puisi itu.
"Gin,
aku boleh bertanya nggak?" aku berbalik bertanya padanya.
"Apa?"
"Memang sih, cara dia memberikan surprise padamu sangat manis dan
romantis. Tapi, kalau ternyata pada kenyataanya si S.A nggak
semanis dan seromantis seperti surprisenya padamu gimana?" Aku bertanya
dengan serius.
"Kamu seperti nggak kenal aku aja sat, kamu kan tau aku itu orangnya
nggak pilih-pilih. Yang penting orangnya itu benar-benar tulus dan peduli sama
aku." jawaban gina barusan membuat aku semakin kagum
sekaligus bangga sebagai sahabatnya. Memang, dari dulu gina tak pernah
pilih-pilih dalam menjalin sebuah persahabatan. Baginya, fisik itu bukan yang
utama.yang terpenting adalah akhlak dan hatinya.
"Memangnya kenapa sat kamu tanya seperti itu?" pertanyaan gina
membuyarkan lamunanku barusan.
" Nggak apa-apa kok, emang nggak boleh ya aku bertanya?"
"Ya boleh dong. Tapi aku kira tadi, kamu tuh tau sebenarnya si S.A itu
siapa."
"Nggak mungkinlah gin, mungkin malaikat kali yang memberi tau
identitas kamu ke dia." aku hanya menjawab sekenanya.
"Ah, kamu bisa aja sat." Sebuah senyum kembali menyimpul
dibibirnya.
Aku memang sengaja belum berniat memberi tau tentang S.A kepada
gina karena aku tak ingin tergesa-gesa. Dan akupun tau, saat ini gina belum
siap untuk menerima seseorang sebagai pengganti kekasihnya yang dulu.
Tak terasa waktu terus berlalu, sang Secret Admire masih tetap rajin
mengirimkan puisi-puisi yang indah kepada Gina. Keadaan Gina pun kini telah
membaik. Ia telah kembali seperti dulu, Gina yang murah senyum dan selalu
ceria. Bahkan, tak lama lagi ia akan menamatkan kuliahnya. Aku turut merasakan
kebahagiaan yang tengah dirasakan Gina saat ini. Dua hari menjelang wisudanya,
Gina menerima sebuah kiriman lagi dari Secret Admirenya. Tetapi kali ini
bukanlah sebuah puisi, melainkan sebuah pesan yang berbunyi “ Aku akan datang dan
menemuimu pada saat kau wisuda, tunggulah aku di taman dibawah pohon beringin
didepan kampusmu.” Betapa senangnya gina mendapat pesan itu. Dari semua
surprise yang dikirimkan oleh sang Secret Admirenya, pesan inilah yang membuat
dirinya paling bahagia. Bertemu dengan sang pemuja rahasia.
Hari ini
adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Gina. Hari wisudanya sekaligus hari
dimana ia akan bertemu dengan Secret Admirenya, seseorang yang telah
mengembalikan senyumanya, seseorang yang telah mengembalikan kehidupanya. Namun
aku tak bisa ikut hadir dalam kebahagiaan itu karena ada pekerjaan mendadak
yang tak bisa aku tinggalkan. Untunglah, Gina sangat mengerti keadaanku. Setelah
acara wisudanya selesai, Gina bergegas menuju ke taman seperti yang dijanjikan.
Disana terdapat pohon beringin yang tumbuh dengan gagah. Jantung Gina mulai
berdegup dengan kencang. Di bawah pohon beringin itu berdiri seseorang dengan
posisi membelakanginya. Tubuhnya gagah, segagah pohon beringin yang
memayunginya.
"Ka,
. . . kamu S.A?" Gina bertanya dengan terbata-bata kepada lelaki yang
membelakanginya itu. Sang lelaki membalikkan tubuh gagahnya. Betapa terkejutnya
Gina melihat sosok didepanya kini yang tak lain adalah diriku sendiri.
“Ya Gina,
akulah Secret Admiremu, Satria Adicahya. Sebenarnya telah lama aku mencintaimu, sangat - sangat
mencintaimu. Tapi atas nama persahabatan, perasaan itu selalu ku tepis
sebisaku. Takkala kulihat kesedihanmu, hatiku terasa terkoyak-koyak. Aku merasa
tak berguna sebagai laki-laki yang mencintaimu. Maka di dalam hati, aku
bersumpah untuk seumur hidupku, bahwa aku akan menjadi seseorang yang akan
selalu membahagiakanmu. Tapi bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang
kekasih."
Kami
cukup lama dalam kebisuan masing-masing. Sekejap, ku berpikir Gina kecewa
terhadapku. Akupun berbalik arah dan bermaksud meninggalkan tempat itu. Akan
tetapi, Gina segera berlari dan memeluk erat pinggangku dari belakang seraya
berkata. . .
"Mengapa
tak kau katakan itu dari dulu?"
Gina pun menangis dalam pelukanku. Tapi kali ini bukan
tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan kami berdua.


0 komentar:
Posting Komentar