Musim hujan telah tiba. Cuaca langit diluar sangat mendung. Awan hitam menghalangi matahari untuk memancarkan sinar hangatnya, karena kurasa kini dingin mulai merasuk hingga ke tulangku. Hal itu membuatku bingung, karena aku tidak bisa berekspresi untuk menuangkan segala pemikiranku dalam karya – karyaku. Sehingga aku hanya terdiam memandang layar kosong komputerku.“Riko!” tiba-tiba aku dengar seseorang memanggil namaku. Aku tersentak dan lalu menoleh kebelakang. Sejenak aku terdiam, hingga kudengar lagi suara tetes - tetes air yang mulai memainkan nada-nada diatap rumah. Termenung tanpa mencari dari mana sumber suara yang aku dengar tadi, karena aku tahu aku hanya seorang diri dirumah.“Riko yang selalu pendiam, yang berasal dari keluarga ‘broken home’, pernah terseret dalam situasi kelamnya kehidupan remaja, harus bisa menjadi orang yang bisa membahagiakan mamah dan papah.” Gumamku dalam hati yang bergemuruh bersambut dengan hujan yang kini mulai mengguyur Kota Palangkaraya.Ingat dikala masa kejayaan dalam kesuramanku, disaat mamah dan papah bertengkar, maka aku akan berlari menarik gas motorku tanpa memperdulikan tanda – tanda yang berdiri tegak dipinggir jalan, sehingga seringkali aku berurusan dengan polisi, yang pastinya papah akan datang dengan wajah sangar penuh amarah. Sesampai dirumah, aku akan disemprot oleh papah dengan berbagai macam ceramah, begitu juga dengan mamah. Kemudian sampailah berhujung pada pertengkeran antara mamah dan papah yang saling ngotot merasa benar dalam mendidikku. Dalam hatiku sungguh sakit, sangat begitu sakit.Sembunyi dari mamah dan papah, aku memakai narkoba untuk meredam kekesalanku. Menjadi anak semata wayang membuat aku tidak pernah kehabisan barang haram itu karena secara materi aku selalu tercukupi. Tapi kebiasaan itu hanya terjadi beberapa minggu. Karena pada akhirnya aku tersadar masalahku tidak terselesaikan, hingga akhirnya aku pula yang memutuskan untuk tidak tinggal dirumah itu lagi semenjak tanpa sengaja aku mendengar kata “Talak” dari mulut papah kepada mamah.Dengan perasaan hancur, kucoba berlari dibalik kesedihan yang aku rasakan. Dengan sisa uang yang aku miliki, aku sewa sebuah rumah kontrakan yang memang jauh dari rumah. Dari hasil karya – karyaku yang aku juallah, aku dapat membayar sewa rumah kontrakan dan mencukupi kebutuhan kehidupanku sehari –hari.Setahun telah berlalu tanpa ada hubungan yang baik dengan mamah dan papah. Kurasakan rindu yang amat sangat. Teringat suara tadi, biasanya ibu memanggilku untuk makan siang, tapi tidak untuk kali ini.Diluar masih hujan dan semakin deras. Aku pandangi dahan - dahan yang terombang – ambing diterpa angin, sedikit kubuka jendela disampingku agar aku merasakan angin yang terasa membelaiku walau dingin makin menusuk kurasa. Dalam lamunanku, tiba – tiba handphoneku berdering, dan aku angkat panggilan itu.“Hallo, assalamualaikum.” jawabku sambil menutup jendela yang tadi aku buka.“Walaikumsalam. Benar ya ini nomor nak Riko Nugroho?” tanya orang itu yang lalu ku sadari dari suaranya itu adalah pamanku sendiri. Tapi aku tidak begitu yakin.“Benar! Ini paman Abror ya?” tanyaku setengah yakin.“Iya, tau betul ya suara paman gimana?” jawabnya sambil kudengar paman cengar – cengir.“Ya iyalah paman, nggak mungkin aku nggak kenal suara paman yang super merdu itu.” candaku yang padahal dalam hati meledek suara paman yang kayak ngelenong.“Bisa aja kamu mujinya.” ucapnya yang lalu kudengar paman tertawa terbahak – bahak.“Ada apa paman? Tumben nelpon aku.” tanyaku memasang nada penasaran.“Nggak ada apa – apa kok nak, Cuma rindu aja sama keluarga disana. Mamah dan papahmu kemana?” pertanyaan paman abror membuat aku terdiam membisu seribu bahasa. Batinku bergemuruh dengan segala hal yang membingungkan. Alasan apa yang harus aku berikan kepada paman tentang apa yang semua terjadi?“Ma, mamah, papah ada kok paman, tapi mereka lagi sibuk. Aku lagi bingung nih paman, aku nggak bisa dapat inspirasi untuk selesaikan cerpenku. Menurut paman, aku harus gimana supaya aku bisa dapatkan biasiswa untuk selesaikan studiku, sepertinya aku butuh ketenangan untuk sementara ini.” ujarku seraya mengalihkan pembicaraan sekaligus meminta solusi kepada paman.“Humm, paman ada solusi nak! Gimana kalau kamu main aja ke tempat paman? Ya, walaupun didesa, tapi disini damai suasananya nak. Lagi pula kamu juga jarang kan main ke tempat paman? Terakhir kali kan lima tahun yang lalu sama mamah dan papah kamu.” tutur paman membujukku, sambil aku cengar – cengir karena heran paman yang tidak pernah berhenti memanggilku dengan sebutan “nak” dari dulu sampai sekarang. Tapi setelah ku fikir, betul juga apa yang dikatakan oleh paman. Suasana desa ditempat paman tinggal pasti sangat cocok untukku, sekaligus untuk berlibur, dan menyelesaikan karya – karyaku. Setelah beberapa saat aku berfikir lagi, akhirnya kuputuskan untuk pergi mengunjungi paman yang berada didesa Pangkoh IV, Kabupaten Pulang Pisau.
***
Dua jam berlalu begitu cepat bagiku, karena disepanjang perjalanan, aku tertidur dengan pulas didalam bus. Maklum, aku sering begadang. Aku lihat dari jendela bus sebuah plank bertuliskan “PAL 14”, itu berarti aku akan segera sampai dirumah paman. Beberapa menit kemudian, sampai lah aku di desa tempat paman tinggal. Wow! Diluar dugaanku, pemandangan yang sangat menakjubkan untuk orang kota sepertiku yang sangat jarang melihat pemandangan didesa. Petak – petak ladang dan sawah tersusun dengan rapi. Padi – padi yang mulai menguning nampak sedang menari – nari diterpa angin yang berhembus bersama kedatanganku. Sungguh aku merasakan kesenangan yang teramat sangat. Sambil ku nikmati indahnya pemandangan desa, ku lepaskan tas yang membebani pundakku, ku ambil sebuah kamera dari dalamnya, dan mulai ku abadikan pemandangan ini dari segala sudut. Tiba – tiba mataku terpaku oleh indah ciptaan tuhan yang lain, tak enggan langsung saja ku abadikan pula apa yang ku lihat itu. Hatiku berderu kencang, lagu para pujangga tak henti beputar ditelingaku. Seorang gadis manis, mengenakan baju bewarna biru langit, terlihat sedang duduk di sebuah gubuk sambil memegang kuas, dan kertas. Setelah ku amati, ternyata gadis itu sedang melukis. Ingin sekali aku menyapanya, tapi ku urungkan niatku karena takut mengganggunya yang sedang asyik mendendangkan kuasnya. Ku angkat lagi kameraku untuk memotretnya, saat mencari sudut yang pas untuk mengambil gambar gadis itu, tiba – tiba tanah yang ku pijak longsor, dan aku hilang keseimbangan, yang kemudian membuatku masuk dalam petakan sawah.“Wow.. wow!” teriakku. Kemudian gadis itu langsung saja berlari kearahku dan menolongku. Tangannya yang halus kurasakan mengangkat lenganku, menolongku dari kubangan lumpur sawah.
“Hai, kamu baik – baik aja kan?” tanya gadis itu mengerutkan dahinya.“Iya, aku baik – baik aja. Makasih ya?” balasku dengan senyum lara sambil aku lepas sepatuku yang dipenuhi oleh lumpur.“Makanya lain kali harus hati – hati.” ujarnya dengan menunjukan senyum yang begitu amat manis.“Iya, sekali lagi makasih ya?” kataku membalas senyum manisnya.“Kamu lain orang sini ya? Kamu orang dari kota ya?” selagi ia bertanya dan tersenyum manis tak bisa ku palingkan wajahku darinya, mungkin ini pesona gadis desa? Oh, tidak. Pastinya hanya ada satu gadis seperti dia didesa ini. Hatiku nian bergemuruh.“Iya.” jawabku singkat.“Memang kamu mau kemana?” kembali ia bertanya.“Aku mau kerumah pamanku. Tapi aku sudah sedikit lupa dimana letaknya. Karena terakhir kali, aku kedesa ini lima tahun yang lalu. Padahal dari tadi aku ingin menelpon pamanku itu. Tapi dari tadi pula handphoneku nggak ada sinyal.” jelasku sambil menunjukan paras kecewaku.“Kalau boleh tau siapa nama pamanmu? Siapa tau aku kenal sama paman kamu dan aku bisa bantu kamu.” ujarnya. Betapa senangnya hatiku jika bisa bejalan bersamanya.“Namanya Abror. Aku biasa manggil dia Paman Abror. Kamu kenal?” jelasku yang kemudian bertanya.“Oh, iya aku kenal kok. Rumahnya hanyak berjarak dua rumah aja dari rumahku. Yuk aku antar! Sekalian aku juga mau pulang.” langsung saja ia mengambil peralatan melukisnya dan meletakannya disebuah keranjang sepeda. Padahal belum sempat aku bertanya siapa namanya.“Hey! Ayok! Kok malah bengong?” suaranya mengagetkanku dalam lamunanku sambil senyum – senyum.“Oh, iya ayok! Tapi gak pantas kalau aku yang kamu bonceng kan?” langsung saja aku tarik tangannya dari setang sepeda, aku pindahkan gendongan tas menjadi didepan, dan aku sangkutkan sepatuku disetang sepeda mini bewarna merah itu. JSungguh bercampur aduk apa yang aku rasakan sekarang. Jika difikir, aku baru bertemunya beberapa saat yang lalu. Tapi ia sudah membuat jantungku berdebar – debar kencang. Wajahnya, senyumnya, tatapannya, dan sentuhannya membuat aku terpesona kepadanya.“Lina” ya, namanya adalah Lina yang aku ketahui melalui perkenalan singkat tidak resmi. Setelah menikmati indahnya pemandangan bersama Lina, sampailah aku di rumah paman. Agak capek setelah mengayuh sepeda ontel. Maklum, dirumah aku jarang sekali memakai sepeda.“Hay keponakanku, wah sudah begitu besar kamu ya sekarang, kamu pasti capek yah seharian ini menuju kerumah paman?” sapa paman sekaligus melepas rindunya kepadaku, memeluk, dan mengacak – acak rambutku.“Iya paman, aku sangat capek. Tadinya juga sempat bingung saat menuju kesini, karena aku agak lupa jalan menuju kemari. Tapi, untung aja ada Lina yang mau mengantarku.” balasku sambil melepaskan tangan paman yang mengacak – acak rambutku.“Oh, terimakasih ya Lina sudah ngantarin keponakan paman sampai rumah.” ucap paman.“Aku juga ucapin makasih banyak ya Lin.” Sambungku.“Iya sama – sama ya, lagian nggak ngrepotin juga kok. Soalnya aku juga sekalian pulang. Kalau gitu aku pulang dulu ya? Mari paman.” Pamit Lina tak serta merta memasang kembali senyum manisnya. Ia memang nampak begitu cantik, dan itu pula yang mungkin menjadi alasan mengapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku yang mengantarkan kepergiannya.***Setelah semalam menginap dirumah paman, pagi harinya kulanjutkan niatku untuk meneruskan karyaku. Tak bisa aku pungkiri bahwa aku sangat senang, karena Lina juga menemaniku bersama bait – bait kata yang aku tuliskan. Itu pun karena kemarin aku sangat memohon kepadanya untuk bisa menemaniku, karena aku juga tidak paham betul tempat - tempat didesa ini. Ia mengajakku ke berbagai tempat untuk inspirasi dan ekspresiku. Terkadang pula aku menemaninya saat ia melukis, malah terkadang ia jadikan pula aku objek lukisannya. Saat ia melukis kupandangi wajahnya, nampak begitu cantik, dan apalagi saat ia tersenyum. Sungguh aku tidak bisa mengganti topik ini.Hari – hari aku lalui seperti biasanya dengan Lina. Tapi bukan hanya menemaniku membuat cerpen, novel atau menemaninya melukis. Kami juga sering melakukan kegiatan yang lain, seperti memetik hasil panen buah mangga milik ayahnya bersama, berkebun bersama, membeli peralatan melukisnya bersama, dan terkadang kami juga saling berbagi cerita tentang diriku ataupun dirinya. Banyak hal yang kami berdua ceritakan yang diselingi canda dan tawa. Tapi setelah itu aku sadar, kalau setiap kemanapun kami pergi, kami selalu berboncengan menaiki sepeda ontel merah milik Lina. Sehingga aku iseng memberikan nama pada sepeda itu dengan sebutan “The Little Red”.“Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?” Pertanyaan itulah yang ada dalam benakku sekarang. walau aku baru megenalnya beberapa minggu, tapi seakan ia begitu bisa memahami diriku. Bersama Lina membuat aku lupa akan diriku bersama segala masalahku. Tapi saat aku sendirian dan menyadari itu semua, aku harus kembali pada kenyataan bahwa aku terpuruk, berasal dari keluarga yang “broken home”. Saat kesedihan itu merajamku, aku kuatkan diri ini, aku syairkan semua do’aku diatas sajadah, bermunajat, memohon petunjuk dari sang maha pencipta. Saat itu pula aku bersumpah akan mengembalikan keadaan keluargaku seperti sedia kala, kembali bersatu dan bahagia.Tidak terasa sudah satu setengah bulan aku berada dirumah paman. Selama itu pula aku selalu bersama Lina. Sekarang, yang ingin aku lakukan adalah menyatakan semua perasaanku kepada Lina. Akan aku katakan bahwa aku jatuh hati kepadanya dan aku ingin dia menjadi bagian dari kesempurnaan perasaan itu, sekaligus berpamitan. Karena hari ini, aku akan kembali pulang ke kota. Dan karena aku juga mendapatkan biasiswa untuk menyelesaikan studiku diluar negeri.Pagi hari ini terasa lebih dingin, dan kabut lebih tebal dari pagi biasanya. Aku langkahkan kakiku ke sebuah danau tempat aku biasa berinspirasi. Aku sandarkan tubuhku disebuah kursi tua. Beberapa saat kemudian, kulihat bayangan Lina dari kejauhan sambil mengayuh sepedanya. Hati dan tubuhku kini menjadi gemetaran membayangkan bagaimana reaksi Lina nantinya atas ungkapanku.“Riko! Pagi sekali kamu ingin membuat novel?” kata Lina menyapaku sambil meletakan begitu saja sepedanya dibawah sebuah pohon. Ini pertama kalinya Lina menyebutkan namaku. Aku sangat senang, tapi bercampur aduk dengan apa yang ada didalam fikiranku. Dan aku hanya terdiam tidak berkata sepatah satu kata pun.“ Apakah kamu nggak ngerasain dingin sekali disini?” lanjut tanya Lina sambil mengambil sebuah syal dari keranjang sepeda dan lalu mengalungkannya keleherku. Lina mulai nampak heran dengan sikapku yang terdiam dan murung.“sebenarnya ada apa Riko?” sekali lagi ia menyebutkan namaku, dan aku masih terdiam. Lina mengangkat kedua tanganku lalu melihat kearah samping kanan kursi yang aku duduki, tempat ku meletakan tas besarku.Kurasakan rintik air hujan mulai menyentuh tanganku, sepertinya pagi ini akan turun hujan, aku fikir. Bukan, aku rasakan tangan Lina gemetar. Aku angkat wajahku dengan mata berkaca – kaca secara perlahan. Itu adalah air mata Lina. Benar, itu adalah air matanya. Sungguh aku tidak bisa menahannya. Ingin sekali aku berdiri dan memeluknya, menjadikan pundakku kokoh agar dapat menopangnya. Tak bisa aku biarkan ia menangis, bibirnya gemetar hebat tapi tak mengeluarkan suara sedikit pun. Lina, menangis untukku. Lalu aku berdiri memandangnya dalam.“Lina? Aku tau kamu menyukaiku kan? Tak apa jika aku salah mengira. Aku hanya ingin kamu mengetahuinya, kalau aku sebenarnya sangat menyukaimu semenjak kita bertemu. Iya, aku akan kembali ke kota sekarang. Ada urusan yang harus aku seleseikan. Jujur, aku nggak ingin ini terjadi. Tapi aku harus Lina!” tuturku sedih.“Pergilah.” Senyum Lina masam.“Aku ingin kamu menungguku kembali. Kamu mau kan nunggu aku sedikit lebih lama lagi?” ujarku meyakinkan Lina. Belum sempat membalas pertanyaanku, kemudian saja Wajah Lina berlalu. Ia lepaskan genggaman tangannya dan mengusap air matanya serta berpaling dariku. Tanpa berkata apapun lagi kepadaku, ia pun bermaksud hendak pergi.“Lina!” ucapku lirih. Lina tetap melangkah pergi bersama sepedanya meninggalkanku seorang diri.***Lima tahun berlalu. Aku telah menyelesaikan studiku diluar negeri. Gelar Dr, sudah berhasil aku letakan didepan namaku. Sekarang, Aku telah mendapatkan pekerjaanku yang layak. Dan mungkin karena merasa malu terhadapku yang kini mulai mapan, mamah dan papah akhirnya kembali. Kembali menjadi seorang suami istri yang semoga saja akan selalu harmonis. Tak jarang pula aku ajak mereka untuk berekreasi kemanapun mereka mau. Keluarga yang aku harapkan kini telah menjadi kenyataan seperti yang apa aku inginkan. Aku juga senang karena cerpen, dan novel – novel karyaku kini booming diseluruh penjuru negeri.Suatu hari, diwaktuku yang begitu sibuk, mamah dan papah mengajakku untuk mengunjungi Paman Abror. Aku mencoba menolak karena aku banyak kerjaan. Tapi mengerti bagaimana cara mamah memintaku untuk ikut, akhirnya aku setujui permintaan mereka.***Kulihat sekarang dihandphoneku tanggal 1 April 2012, aku bernostalgia. Teringat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Lina. Dan masih saja aku kenakan syal bewarna coklat yang pernah Lina berikan kepadaku. Aku hirup aroma dari syal itu dalam – dalam, dan aku sandarkan tubuhku di bawah sebuah pohon yang rindang. Aku lihat disampingku sebuah kursi yang sudah rusak dimakan lapuk. Ini adalah awal musim kemarau. Dan pohon – pohon disekelilingku mulai menggugurkan daun – daun harapannya.Dalam lamunanku, aku mengingat Lina. Kemudian aku tertawa lepas. Sungguh kenangan itu tidak pernah hilang dari ingatanku sampai kapanpun bahkan sampai sekarang.“Hay! Apa kamu sudah gila tertawa sendirian dibawah pohon!” suara itu menghentikan tawaku. Suara yang tidak asing lagi bagiku. Sekejap, air mataku mengalir kebibirku. Suara itu menghipnotisku untuk mencari dari mana suara itu berasal.“Lin, Lina?” ucapku gemetar.“Iya! Bagaimana bisa kau masih terdiam disini sambil tertawa, sedangkan kau biarkan kekasihmu untuk menunggumu begitu lama, Hah!” ucapnya sedikit teriak.Tatapannya tajam, dan kami saling terdiam lama. Hingga akhirnya ia berlari, menangis, lalu memelukku. Yang aku dengar kini adalah tangisan bahagia darinya. Diumurku yang ke dua puluh lima tahun ini, aku mantabkan hati untuk Lina dan lalu berseru dalam hati, Allahu Akbar.TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar