Dari
balik kaca jendela kelas, aku pandangi ia yang sedang duduk asyik kegirangan
membaca puisi cinta yang dikirim oleh pengagum rahasianya pagi ini. Lesung
pipit diwajahnya semakin nampak jelas saat senyum bahagianya meledak. Tidak
jarang pengagum rahasia sahabatku sedari kecil itu mengirimkan puisi cinta dan
bunga mawar segar yang terkadang diletakan di laci meja, ataupun dititipkan
kepada ibu kantin, maupun satpam sekolah. Kebahagiaan Amira itulah yang membuat
seorang ‘Aldo Saputra’ memiliki motivasi dan keobtimisan lebih akan penyakit
yang sudah lama menjerat tubuh ini. “Glioma”, nama itulah yang masih tertulis
disurat keterangan dokter yang aku dapatkan pagi ini. Entah sudah stadium
berapa, karena aku sukar membaca surat yang diberikan oleh dokter. Hingga akhirnya
aku lebih suka meremas-remasnya lalu membuangnya ketempat sampah seperti yang
aku lakukan sekarang.
“Selamat pagi Aldo, kamu kemana
saja? Dari tadi aku cari kamu.” Sapa Amira yang tiba-tiba saja sudah berada
disampingku menghentak adrenalinku.
“Eh, kamu, selamat pagi juga Amira,
aku dari tadi ada didalam kelas tetangga kok. Wah, kayaknya lagi ada yang
berbunga-bunga nih?” Balasku menyapa Amira dengan memasang senyum sambil
sedikit meledeknya.
“Iya Do, aku pagi ini seneng
banget. Pengagum Rahasiaku itu mengirim puisi cinta lagi kepadaku Do.” Ujar Amira
girang yang kemudian menunjukan kertas berisikan puisi dari seseorang yang
berinisialkan ‘L.A’.
“Aku bangga si ‘L.A’ ini bisa bikin
sahabatku tertawa dan bahagia”, sanjungku mengucal-ucal rambut Amira, “Tapi Ra,
kira-kira siapa ya sebenarnya si Pengagum Rahasiamu Ra? Aku ingin belajar dari
dia, soalnya puisi dia bagus-bagus banget. Ya siapa tahu gitu aku juga
bisa nembak cewek.” Lanjutku memasang wajah memelas.
“Kamu ini ada-ada saja Do. Aku
sendiri juga enggak tau siapa sebenarnya si ‘L.A’. Hayo! Kamu ada cewek
yang ditaksir ya?” Kata Amira dengan tertawa lepas.
“Enggak!” Jawabku ketus.
“Berani bohong sekarang ya? Ayo, ngaku!”
tawa Amira yang diselingi rasa akan penasaran terhadap apa yang aku katakan
tadi. “Kasih tahu aku dong Do, siapa cewek yang kamu taksir?”
“Rahasia, wekkk!” Jawabku meledek
Amira dengan menyentil jidatnya.
“Heh! Awas Kamu Do! Aku pukul kamu
nanti pakai sepatu flatku!” Teriak Amira, lalu mengejarku kedalam kelas.
Aku sangat senang sekarang. Karena
aku yakin tawa Amira benar-benar telah kembali seperti dua tahun yang lalu, saat
ayah Amira belum meninggal. Amira adalah seorang gadis yang berasal dari
keluarga sederhana. Kebutuhan akan ekonomi lah yang memaksa Amira untuk bekerja
paruh waktu di sebuah supermarket agar dua adiknya dapat terus bersekolah. Memang
aneh rasanya seorang gadis SMA seperti Amira dapat dengan mudah berkerja di
sebuah supermarket. Karena pada dasarnya, hanya lulusan SMA saja yang dapat
berkerja ditempat seperti itu. Apalagi hanya paruh waktu. Mungkin itulah yang
dinamakan sebuah keberuntungan. Seringkali aku
mengantar dan menjemput Amira selepas ia bekerja, dan ternyata bukan hanya
disekolah Sang Pengagum Rahasia mengirimkan puisi ataupun bunga, Amira juga
sering kali bercerita padaku bahwa ‘L.A’ hampir tidak pernah absen untuk mengirimkan
puisi ataupun bunga mawarnya, seperti hari ini pula. Sampai keesokan harinya
aku putuskan bersama Amira untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang dibalik
inisial ‘L.A’.
Benar dugaanku. ‘L.A’ tahu bahwa
kami mempunyai rencana untuknya. Karena selama tiga hari ini ‘L.A’ tidak
mengirimkan puisi seperti biasanya. Dia seakan sudah dapat menerka segala
gerak-gerik kami, seperti seseorang yang benar-benar misterius yang selalu
hadir bersama langkah Amira. Hingga saat kami berhenti mencari kebenarannya,
ternyata ‘L.A’ kembali mengirimkan puisi dan bunga untuk Amira.
“Ra? Aku semakin penasaran dengan orang yang berinisial
‘L.A’ ini Ra. Bagaimana kalau dia benar-benar orang yang kita kenal?” Tanyaku
serambi menyeruput kopi hangatku disebuah cafe, tempat yang biasa kami kunjungi
selepas Amira Pulang dari tempat ia magang
“Aku juga enggak Do, yang pasti adalah aku ingin banget untuk
tahu atau bertemu langsung sama dia.” Jawab Amira menghela nafas panjang.
“Umm,” sahutku dengan ekspresi
santai melihat kearah rambu lalu lintas yang berdiri tegak diseberang jalan,
“Kalau ‘L.A’ benar-benar menyukaimu atau mencintaimu, apa tanggapan kamu Ra?”
lanjut aku bertanya.
“Gimana ya Do? Aku juga
bingung kalau menanggapi hal seperti ini. Semua yang sudah ‘L.A’ lakukan itu
memang sudah membuat ruang tersendiri dihati aku. Tapi sebenarnya aku sudah
punya seseorang yang sangat aku sukai Do.” Ujar amira mengerutkan dahinya.
Entah mengapa pernyataan Amira yang terakhiritu membuat hatiku bergoyak, semacam ada cakar
yang mencoba menggaruk-garuknya hingga terkelupas bagian luarnya. Aku tahu itu
adalah perasaan lain yang membuatku takut akan kehilangan, sehingga kata persahabatan
mungkin lebih tepat agar aku dapat selalu bersama dengan Amira.
“Kok malah bengong Do? ah, enggak
asyik kamu. Aku dari tadi bicara, kamu malah bengong!” Sentak Amira melotot dan
menjitakku yang saat itu tengah minum kopi dan agak sedikit melamun.
“Hem, uhuk! Uhuk! Uhuk, maaf Ra, aku
enggak bengong. Nih, lihat! Jadi tersedak akunya.” Balasku melotot pada
Amira.
“Iya, maaf.” Jawabnya sangat ketus.
“Udah malam Ra, kita pulang yuk?”
ujarku mengajak Amira pulang karena aku lihat sudah hampir jam sepuluh.
***
Pagi ini kelas dimulai oleh
pelajaran Fisika. Ibu Tendun sudah memasuki ruang kelas kami. Sedangkan
pandanganku masih tidak bisa aku lepaskan dari bangku nomor satu dipojok kanan
depan tempat aku duduk, bangku Amira. Aku putuskan untuk pergi kerumah Amira
selepas pulang sekolah nanti karena aku begitu mengkhawatirkan keadaannya.
Sekolah pun akhirnya usai. Aku
percepat langkahku menuju tempat kendaraan roda duaku diparkirkan. Aku langsung
bergegas menarik gas motorku dalam-dalam. Aku mencoba untuk secepat mungkin sampai
dirumah Amira.
Sesampai dirumah Amira, segera aku
ketuk pintu dan mengucap salam tetapi tidak ada yang menjawab. Aku intip dari
jendela dan hanya nampak sepi saja. Perasaanku semakin tidak karuan.
“Maaf dek, adek cari Amira ya?”
tanya salah seorang tetangga yang aku ketahui bernama Bu Jaya.
“Iya bu, tadi Amira tidak masuk
sekolah. Jadi saya khawatir dan langsung kemari.” Jelasku kepada Bu Jaya.
“Amira pergi kemana ya bu? Kok dirumah juga tidak ada orang?” sambungku.
“Jadi dek Aldo belum tau ya kalau
Adiknya Amira yang namanya Gita masuk rumah sakit?” ucap Bu Jaya setengah
yakin.
“Serius bu? Sekarang mereka ada
dirumah sakit mana bu? Dan sejak kapan bu? Amira kenapa tidak ada bilang sama
sekali kepada saya ya?” tanyaku dengan wajah khawatir karena memang hatiku
sangat tidak tenang. Setelah
mendengarkan penjelasan dari Bu Jaya, sebisa mungkin aku mengendarai motorku
menembus serta merobek jalanan sore Palangka Raya menuju tempat adik Amira
dirawat. Sebisa mungkin berlari memasuki pintu rumah sakit dan Segera aku
bertanya kepada seorang perawat yang kemudian mengantarkan aku kekamar nomor
135. Sesampainya, jantungku sangat berdebar dan jiwaku berguncang sangat hebat.
Mataku berkaca-kaca, bibirku bergetar kencang, Air mata dan keringat dingin
bercampur menjadi satu menetesi baju hem yang aku kenakan. Suara elektrokardiograf
terdengar sebagai musik sendu yang menembus
kaca disisi tengah pintu bersama dengan segala pandanganku. Aku lihat
Amira sedang membasuh tangan Gita dengan lembutnya. Matanya sembab, sesekali
air matanya tumpah kedalam mangkok kecil berisikan air basuhan untuk mandi
adiknya. “Ingin sekali aku mendekat lalu memeluknya erat, memberikan pundakku
agar ia kuat. Ah tidak, mungkin kedatanganku malah akan membuatnya semakin
terbebani. Amira, Doaku selalu bersamamu.” Ucap hatiku yang terus bergemuruh
meski sesudah aku pergi dari depan kamar 135 meninggalkan Amira bersama
adiknya.
***
Dua hari berlalu berlalu sangat
cepat. Jam tanganku sudah menunjukan pukul dua siang. aku kuatkan hatiku
berdiri didepan rumah sakit sambil membawakan adik Amira sekeranjang
buah-buahan segar sambil berfikir, “Inilah saatnya aku membesuk Amira dan
adiknya”. Tiba-tiba langkahku berhenti perlahan melihat Amira dibagian
administrasi yang Sepertinya nampak sangat bingung dan seakan mendesak seorang
petugasnya untuk mengatakan sesuatu.
Didalam kamar perawatan hanya ada
bunda Amira dan adik bungsunya serta Gita yang tengah terbaring.
“Asalamuallaikum,” sapaku serambi
membuka pintu lalu masuk.
“Walaikumsalam. Oh nak Aldo, mari
sini nak.” Balas sapa bunda Amira yang sangat hangat diikuti ekspresi girang
Danis, adik bungsu Amira. “Ye... Ada Kak Aldo! Mah, ada Kak Aldo”. Aku letakan
buah-buahan yang aku bawa diatas meja tepat disamping ranjang Gita terbaring
lalu mengecup keningnya berharap agar Gita lekas sembuh. Aku sangat mengenali
bunda Amira. Beliau sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Sangat asyik
jika sudah mengobrol dengan Bunda Amira, sehingga aku tidak sadar kalau Amira
sudah berdiri tepat didepan pintu dengan wajah penuh amarah kepadaku. Ia datang
menghampiriku tanpa sepatah kata apapun lalu menarikku keluar membuat bunda
Amira kebingungan.
“Heh, untuk apa kamu datang kemari?”
tanya Amira jutek kepadaku.
“Untuk apa? Aku ini sahabatmu Ra,
jadi wajar bukan kalau datang untuk menjenguk?” jawabku mengambil kedua
tangannya.
“Sahabat kamu bilang? Kemarin kamu
kemana saja Do? sekarang kamu baru datang dan berlagak peduli dengan aku!” Ujar
Amira meninggikan nadanya, membuang genggamanku. Sedangkan aku hanya terdiam
sambil membuang paras sesalku. “Kamu jahat Do! ini lihat! Pengagum Rahasiaku
lebih peduli denganku, dia yang melunasi segala administrasi adikku, dan dia enggak
berharap balasan apapun dari aku. Bukan seperti kamu yang maunya hanya
berharap atas persahabatan saja!” Lanjut Amira menghardikku yang aku rasa kini
Amira memang benar-benar berada dalam puncak amarahnya. Aku masih terdiam, aku
tidak bisa mengatakan apapun. Yang dapat aku lakukan adalah menarik kedua
tangannya kembali, dan mencoba memeluknya erat meski ia terus memukuli dadaku
sekuat tenaganya. Air mataku mulai berpadu bersama isak tangisnya. Seharusnya
memang aku datang saat hari itu, tetapi betapa bodohnya aku.
“Maafin aku ya Amira?” Ucapku lirih
dalam tangisannya walau ia masih saja menggerutu menyebutku “jahat”. Dalam
hatiku sangat menyesal pernah meninggalkan Amira.
***
Hari ini Amira sudah masuk sekolah
seperti biasa walau Gita masih harus dirawat di rumah sakit. Amira sangat
nampak bahagia saat ia kembali membaca
puisi dari ‘L.A’ yang diletakkan didalam laci pagi ini. Wajahnya kembali
semeringah berseri-seri bagaikan bunga mawar merah segar yang sedang mekar,
kemudian ia menghampiriku dan bertanya, “Aldo? Kenapa nomor handphone kamu
sekarang enggak aktif?”
“Handphone aku rusak Ra, belum sempat
beli yang baru.” Jawabku.
“Oh gitu. Ini coba deh kamu lihat!
Pengagum Rahasiaku itu kasih puisi untukku pakai tulisan tangannya sendiri Do!
Biasanya kan ditulis dengan . . .” tiba-tiba Amira berhenti bicara, “Sebentar
dulu, kok kayaknya tulisannya enggak asing ya untukku?” Sambung Amira
serentak merebut puisi yang sedang aku pegang.
“Udahlah kita bahas nanti saja Ra,
sekarang kita masuk kelas dulu.” Ajakku berbarengan dengan suara bel.
Semua siswa sudah duduk dengan
rapinya saat pelajaran dimulai. Tiba-tiba kepala sekolah memasuki kelas.
Ternyata pagi ini ada razia dadakan. Pastinya anak-anak yang banyak ulah
membawa rokok atau film XXX akan disemprot habis oleh kepala sekolah, bahkan
diskors atau di DO dari sekolah. Aku diminta kepala sekolah untuk embantu
menggeledah tas teman-temanku mulai dari pojok belakang. Entah datangnya dari
mana, langsung saja kepala sekolah memukul meja Amira dengan sekencangnya. Aku
sempat tersentak kaget. Pikiranku tak percaya atas apa yang aku lihat. “Enggak
mungkin Amira membawa barang haram seperti itu”, gumamku dalam hati. Kepala
sekolah mulai melontarkan segala hujatan kepada Amira, sedangkan ia mencoba
sebisa mungkin untuk membela diri. Orang-orang dari kelas lain mulai menggerumuni
selasar depan kelas atas keributan yang terjadi. Aku mulai mendengar cemoohan
tentang Amira dari beberapa mulut. Aku sungguh tidak tahan. Ingin sekali aku
menyumpalinya dengan tas yang aku pegang.
“Jangan mengelak lagi kamu!
Buktinya, Ekstasi ini berada di tas kamu! Kamu tahu bukan konsekuensi yang akan
kamu dapatkan membawa barang ini ke area sekolah?” Ucap kepala sekolah dengan
nada yang sangat tinggi dengan menunjuk-nunjuk muka Amira yang kian menunduk
pasrah disalahkan. “Kamu akan kami keluarkan dari sekolah ini.” Lanjut kepala
sekolah sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
“Tidak! Anda tidak bisa mengeluarkan Amira begitu saja
Pak!” Teriakku spontan yang membuat semua orang menoleh kepadaku. “Pasti ada
orang yang sengaja meletakkan barang itu kedalam tas Amira.” Kataku melirik
kebeberapa orang yang berada disekelilingku.
“Bagaimana bisa? Memang menurut kamu siapa yang berani
melakukan hal rendah semacam ini? Kamu tidak perlu membela orang yang jelas
bersalah!” Tegas kepala sekolah hingga semua orang akhirnya menjadi hening.
“Sayalah yang memasukan barang itu ke dalam tas Amira Pak.”
Ucap bibirku yang membuat aku sendiri bingung dengan apa yang aku lakukan. “Apa
yang aku ucapkan barusan? Bodohnya aku mengakui kesalahan orang lain. Bukan,
Amira bukan orang lain. Bukan juga, dia bukan siapa-siapa. Tapi, tapi dia
adalah sahabat baikku. Aku begitu menyayanginya, aku ingin dia tetap bersekolah
disini.” Ujarku rancu dengan memandang jauh ke dalam bayangan wajah Amira yang
sedari tadi menangis sendu dihadapan banyak orang. Sedangkan tubuhku masih
bergetar hebat menggenggam perasaan sambil memantabkan hati atas apa yang akan
aku korbankan setelah ini. “Saya melakukan ini karena saya benci dengan Amira. Tapi
saya kira tidak akan fatal seperti ini. Saya akan bertanggung jawab Pak. maka
dari itu, biarlah saya yang dikeluarkan dari sekolah ini.” Kataku mencoba
bersikap seperti orang bijak dan lalu pergi bersama pandangan orang-orang yang
melihat bodoh. Mereka tahu bahwa aku hanya mencoba menyelamatkan Amira, mereka
seakan tidak percaya kalau seorang ketua OSIS yang disegani banyak orang
sepertiku dapat bertindak bodoh seperti ini.
“Aldo!” Teriak Amira seraya berlari
mengejarku yang sudah berada didepan parkiran sekolah dengan bercucuran air
mata. Dengan nafas yang masih terengah-engah dan tanpa memberikan alasan
apapun, tiba-tiba langsung saja tangan kanan Amira menamparku dengan kerasnya,
“plak!” begitulah kira-kira suaranya. “Dasar kamu ya! Kenapa sih berlagak jadi
pahlawan segala untukku? Kamu ngapain bohong sama kepsek? Aku tahu ada yang
orang sabotase semua ini, tapi enggak begini cara menyelesaikannya Do!”
Bentak Amira kepadaku yang masih menunduk mengusap pipi bekas tamparan Amira.
“Kamu enggak boleh pergi Do!” tuturnya yang membuat tangisnya semakin
hebat.
“Menjauh dariku!” sentakku kepada Amira sambil
Menghempaskan tangannya yang akan mendekapku. “Sungguh bagaimana bisa kata-kata
itu terlontar begitu saja dari mulutku? Aku yakin kamu sudah sangat kecewa
kepadaku. Biarlah, lagipula beberapa minggu lagi ujian. Aku hanya takut kalau
masalah ini kita usut nanti kamu enggak memiliki banyak waktu untuk
menyelesaikannya sebelum ujian. Jadi, biarkan sekali ini aku berkorban untukmu,
Amira.” Tuturku dalam hati seraya meniggalkan Amira seorang diri yang tengah
duduk menunduk didepan parkiran.
***
Sekarang tepat tanggal 1 April 2012
dikalender kecil yang terletak di atas meja belajarku. Teringat aku bahwa hari
ini adalah hari ulang tahun Amira yang
ke-17. Aku selalu berfikir bahwa mungkin Amira masih membenciku karena semenjak
kejadian itu, Amira tidak pernah sama sekali menghubungiku. Hari ini pula aku
harus pergi memeriksakan diri kedokter spesialisku bersama Kak Jordan yang baru
saja datang dari Bandung. Kakak kandungku itu sengaja datang jauh-jauh dari
Bandung hanya ingin tahu hasil pemeriksaan yang aku jalani beberapa tahun
terakhir ini. Mungkin ia mengetahui penyakit yang aku derita dari mamah.
Seketika fikiranku meledak bersama
rinduku kepada Amira dan derasnya darah yang mengalir dari dalam hidungku. Sebisa
mungkin aku berlari meninggalkan Kak Jordan yang berada dirumah sakit walau
dalam keadaan lemah dan tertatih. “Maafkan aku Amira, waktuku sudah tidak
banyak. Aku harus bisa ungkapkan semua ini kepadamu Ra.” Ucapku dalam hati yang risau.
Disebuah Cafe tempat biasa aku dan Amira
bertemu, aku hentikan langkahku dan memesan serta menyiapkan sebuah meja dan
sepasang kursi untuk merayakan ulang tahun Amira. Nuansa identik romantis
mewarnai tempat itu sekarang, dengan sebuah pot mini diatasnya yang berisikan
mawar merah kesukaan Amira. Disamping bunga mawar itu aku letakkan sebuah kotak
merah dengan pita merah muda sebagai kado ulang tahun untuk Amira agar ia mau
memaafkanku. Dengan menggunakan sebuah taxi, aku berniat akan menjemput Amira dan
agaknya terbayang bagaimana ekspresi marah Kak Jordan yang tadi aku tinggalkan.
Karena bermaksud ingin memberi surprise
kepada Amira, akhirnnya aku meminta taxi
yang aku tumpangi untuk berhenti didepan sebuah gang tidak jauh dari Amira.
Meski terlihat seperti orang yang terlunta-lunta, aku tetap berusaha berlari
sekencang mungkin walau bau anyir kembali memenuhi rongga hidungku. Tiba
didepan rumah Amira aku coba atur nafasku yang masih terengah-engah sambil
mengelap darah yang nian membanjiri hidungku. Sebelum aku mengetuk pintu,
terlebih dahulu aku mengintip kedalam lewat celah gorden yang sedikit terbuka,
dan betapa kagetnya aku dengan apa yang aku saksikan. Harapan yang aku miliki
sejak lama telah hancur hingga berkeping-keping bersama hancurnya perasaan dan
hati ini yang begitu terasa sakit melebihi sakit dari tubuh yang aku rasakan.
Seperti ada pisau yang menusuk hati ini sedemikian dalamnya sehingga meninggalkan darah dalam tangisan
merdu yang air matanya kini mulai membasahi pipiku. “Bagaimana bisa Seorang
lelaki selain aku dapat mendapatkan pelukan dari Amira sebegitu eratnya?” ucap
sekeping hatiku yang ingin berontak masuk kedalam dan berteriak sekencang
mungkin meski disitu terdapat Frida teman sekelas kami dan Bunda serta adik-adik
Amira yang semuanya dalam keadaan menangis. Tapi wajah mereka semua nampak
buras aku lihat, mungkin karena terhalang oleh kaca atau mungkin memang karena
pandanganku yang sudah mulai kabur. Aku tidak ingin membuat hancur suasana
kedekatan mereka, mungkin mereka sedang merayakan ulang tahun Amira dan aku
bukanlah tamu yang diundang. Dengan membawa segala perasaan yang hancur dalam
tangisan, aku coba sekali lagi untuk menguatkan tubuhku agar dapat berlari
sejauh mungkin dari tempat itu. Sejauh dan sebisa mungkin aku pergi meski masih
terbayang wajah Amira dalam relung hatiku hingga akhirnya disaat aku harus
menyebrangi jalan, langsung saja sebuah truck menyambarku dengan begitu
kencangnya. Akan tetapi, aku masih cekatan untuk menghindari truck tersebut
meski lenganku sedikit memar karena berhantaman dengan aspal. Dengan sisa
tenaga yang aku miliki, Sampailah aku dicafe yang tadi aku kunjungi. Meja dan
kursinya masih sangat tersusun rapi seperti saat aku tinggalkan, bahkan bunga
dan kado untuk Amira tidak sama sekali bergeser dari tempatnya, mungkin memang
karena pemilik cafenya masih menunggu aku kembali. Dari kejauhan nampak
bayangan Amira menghampiri cafe tempatku menunggunya sekarang. Aku mencoba
sabar dan mengerti keadaan bahwa ia memang mencintaiku, tapi hanya sebagai
sahabat. Aku pandang salah seorang pekerja dicafe itu dan ia balas memandangku
dalam. Ia seakan langsung mengerti maksudku, kemudian menjemput Amira dan
mengantarkannya ditempat aku duduk sekarang dengan tangan dan jari-jari yang
memar. “Amira? Akhirnya kamu datang juga. Tadi aku akan menjemputmu dirumah.
Tapi aku fikir kedatanganku hanya akan mengganggumu, jadi aku urungkan niatku
itu. Apakah kamu masih marah denganku?” Ujarku yang hanya dibalas sebuah
senyuman oleh Amira sambil menghirup dalam-dalam dari aroma bunga mawar yang
aku berikan diatas meja. “Ini coba kamu lihat diriku! Tanganku memar karena
jatuh tersandung batu saat hendak menjemputmu tadi.” Sambungku berbicara yang
kembali disahut hanya dengan sebuah senyuman. “Selamat ulang tahun ya Amira,
sahabatku yang paling baik. Semoga panjang umur dan keinginan kamu jadi seorang
ibu dokter lekas menjadi kenyataan.” Kataku semeringah penuh semangat sambil
menyodorkan kado yang sudah aku siapkan tanpa berani menyentuh atau menggenggam
tangannya. Ia hanya memandangku erat dan seketika tangisnya kembali meledak
setelah membuka kado yang aku berikan. “Maaf Ra, aku hanya bisa memberikan kamu
itu. Aku tahu kalau kamu tidak menyukainya” Ucapku lirih kemudian diiringi isak
tangis kami berdua yang membuat semua orang dicafe itu melirik kepada kami.
“Iya Ra, akulah ‘L.A’. Aku lah orang yang
berada dibalik topeng Pengagum Rahasia kamu itu. Walau hanya sebagai sahabat,
tapi aku tetap ingin kamu selalu bahagia. Sejak kepergian ayahmu, aku tahu
bahwa Amira yang aku kenal sudah berubah menjadi orang lain yang pemurung,
menyendiri, dan tertutup. Sejak itu pula aku membuat janji bahwa aku akan
mengembalikan Amira seperti sedia kala,
hingga senyuman dan kebahagiaan itu kembali menjelma dalam paras yang cantik
itu Ra. Dengan segala kebohongan itu, aku coba mengembalikan semuanya. aku
memang egois, aku jahat! Bagiku pengorbanan ini akan sebanding jika kamu
bahagia Ra. Aku sangat mencintai kamu lebih dari seorang sahabat Ra. Aku sudah
mengakuinya sekarang, aku tidak berharap banyak atas cinta ini. Walau kamu
tidak menjawabnya sekarang, tetapi aku akan setia menunggu jawaban dari kamu
Ra.” Ujarku lega tanpa ada lagi sebuah beban meski Amira masih saja menangis
menyamakan kedua puisi tulisan tanganku sendiri. Tiba-tiba mataku terpaku
dengan secarik kertas yang kemudian Amira pungut dari dalam saku celana
jinsnya. “Itu adalah surat keterangan dokter yang seharusnya Kak Jordan ambil setelah
pemeriksaan tadi.” Ucapku dalam batin. “Dari mana kamu dapatkan kertas itu Ra?”
tanyaku.
“Aku sudah tahu semuanya kok Do, kenapa
semua ini harus terjadi? Betapa bodohnya aku selama ini tidak dapat meyadari
semuanya,” ujar Amira. Aku hanya terdiam merenungi semua. Cinta memang harus
memiliki. Munafik saja jika orang mengatakan cinta tidak harus memiliki., namun
pengorbanan memang tidak selalu terlihat jelas, yang ada hanya meninggalkan
penyesalan saat dipenghujung cerita. Memang bukan kado yang istimewa, hanya
sebuah kotak biasa berisikan puisi dari seorang ‘L.A’, Loving Amira.
Angin berhembus perlahan membawa ribuan
rindu,
Beku dan bisu mengunci setiap sudut hati
yang beku,
Hanya suara embun yang datang mengusikku,
Kado terakhir adalah ungkapan,
Auramu menarikku
dalam duniamu,
Jadikan aku raja
bagimu dalam istana hatimu,
Walau kini aku tak
lagi temani ragamu,
Cintaku hanya untuk
engkau seorang.
“Aku juga sangat mencintai kamu
Aldo! Orang yang aku sukai itu adalah kamu. bukan Pengagum Rahasia atau siapa
pun. Aku hanya mencintai kamu Do.” Aku sangat terkejut mendengar apa yang ia
ucapkan. Jantungku tidak sama sekali berhenti berdebar mengakibatkan tubuh ini
gemetar hebat dan semakin terguncang setelah Amira mengatakan hal yang tidak
bisa aku percaya, “Tapi kamu sekarang ada dimana Do? cepatlah kembali.” Ujar
Amira seraya menangis. Tidak bisa aku percaya dengan apa yang terjadi. Aku
pandang matanya dalam, tak luput pula aku lihat orang-orang dicafe itu yang
memandangku kosong. Aku masih bingung dan memandangi sekujur tubuhku, sampai
tiba-tiba Amira berdiri menjatuhkan kado dariku bersama handphone yang ia
gunakan barusan untuk menerima sebuah panggilan. Spontan Amira berlari
meninggalkan cafe sekencang mungkin. Sedangkan aku yang masih bingung mecoba
mengejarnya meski jalanku gontai. Disebuah persimpangan jalan tidak jauh dari
cafe, aku lihat ramai banyak orang menggerumuni mobil ambulance. Disana aku lihat
ada Kak Jordan, Frida dan juga Amira yang terdengar isak tangisnya begitu
keras. Aku baru menyadari bahwa Laki-laki yang ada dirumah Amira adalah Kak
Jordan. Setelah berdesakan masuk kedalam gerumunan, perlahan aku mendekat dan
memegang erat pundak Amira. Aku amati juga seorang laki-laki tidak bernyawa
berlumuran darah yang membuat Kak Jordan, frida, dan Amira menangis histeris.
Dia adalah aku.
Ungkapan yang bermakna adalah ungkapan yang berasal dari
hati yang sederhana, kado tersiratlah yang dapat aku berikan disetiap mampuku.
Walau kini hanya sebuah kotak kado kosong yang aku berikan, tapi sebenarnya
kotak itu berisi cinta serta hati yang tidak terlihat mata orang biasa. Meski
aku tahu cinta bukannya hanya kepada seorang, bisa saja orang tua, sahabat, dan
yang pasti tuhan. tidak pernah menerima sebuah kado dihari spesialku, tapi aku
sangat senang sempat bersamanya. Karena bagiku dia adalah kado yang tuhan
berikan kepadaku untuk setiap hari. Kotak Kado Terindah Untuk Amira.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar