Kamis, 20 Juni 2013

Kotak Kado Terindah Untuk Amira

07.49

Share it Please

Dari balik kaca jendela kelas, aku pandangi ia yang sedang duduk asyik kegirangan membaca puisi cinta yang dikirim oleh pengagum rahasianya pagi ini. Lesung pipit diwajahnya semakin nampak jelas saat senyum bahagianya meledak. Tidak jarang pengagum rahasia sahabatku sedari kecil itu mengirimkan puisi cinta dan bunga mawar segar yang terkadang diletakan di laci meja, ataupun dititipkan kepada ibu kantin, maupun satpam sekolah. Kebahagiaan Amira itulah yang membuat seorang ‘Aldo Saputra’ memiliki motivasi dan keobtimisan lebih akan penyakit yang sudah lama menjerat tubuh ini. “Glioma”, nama itulah yang masih tertulis disurat keterangan dokter yang aku dapatkan pagi ini. Entah sudah stadium berapa, karena aku sukar membaca surat yang diberikan oleh dokter. Hingga akhirnya aku lebih suka meremas-remasnya lalu membuangnya ketempat sampah seperti yang aku lakukan sekarang.
            “Selamat pagi Aldo, kamu kemana saja? Dari tadi aku cari kamu.” Sapa Amira yang tiba-tiba saja sudah berada disampingku menghentak adrenalinku.
            “Eh, kamu, selamat pagi juga Amira, aku dari tadi ada didalam kelas tetangga kok. Wah, kayaknya lagi ada yang berbunga-bunga nih?” Balasku menyapa Amira dengan memasang senyum sambil sedikit meledeknya.
            “Iya Do, aku pagi ini seneng banget. Pengagum Rahasiaku itu mengirim puisi cinta lagi kepadaku Do.” Ujar Amira girang yang kemudian menunjukan kertas berisikan puisi dari seseorang yang berinisialkan ‘L.A’.
            “Aku bangga si ‘L.A’ ini bisa bikin sahabatku tertawa dan bahagia”, sanjungku mengucal-ucal rambut Amira, “Tapi Ra, kira-kira siapa ya sebenarnya si Pengagum Rahasiamu Ra? Aku ingin belajar dari dia, soalnya puisi dia bagus-bagus banget. Ya siapa tahu gitu aku juga bisa nembak cewek.” Lanjutku memasang wajah memelas.
            “Kamu ini ada-ada saja Do. Aku sendiri juga enggak tau siapa sebenarnya si ‘L.A’. Hayo! Kamu ada cewek yang ditaksir ya?” Kata Amira dengan tertawa lepas.
            “Enggak!” Jawabku ketus.
“Berani bohong sekarang ya? Ayo, ngaku!” tawa Amira yang diselingi rasa akan penasaran terhadap apa yang aku katakan tadi. “Kasih tahu aku dong Do, siapa cewek yang kamu taksir?”
            “Rahasia, wekkk!” Jawabku meledek Amira dengan menyentil jidatnya.
            “Heh! Awas Kamu Do! Aku pukul kamu nanti pakai sepatu flatku!” Teriak Amira, lalu mengejarku kedalam kelas.
            Aku sangat senang sekarang. Karena aku yakin tawa Amira benar-benar telah kembali seperti dua tahun yang lalu, saat ayah Amira belum meninggal. Amira adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Kebutuhan akan ekonomi lah yang memaksa Amira untuk bekerja paruh waktu di sebuah supermarket agar dua adiknya dapat terus bersekolah. Memang aneh rasanya seorang gadis SMA seperti Amira dapat dengan mudah berkerja di sebuah supermarket. Karena pada dasarnya, hanya lulusan SMA saja yang dapat berkerja ditempat seperti itu. Apalagi hanya paruh waktu. Mungkin itulah yang dinamakan sebuah keberuntungan. Seringkali aku mengantar dan menjemput Amira selepas ia bekerja, dan ternyata bukan hanya disekolah Sang Pengagum Rahasia mengirimkan puisi ataupun bunga, Amira juga sering kali bercerita padaku bahwa ‘L.A’ hampir tidak pernah absen untuk mengirimkan puisi ataupun bunga mawarnya, seperti hari ini pula. Sampai keesokan harinya aku putuskan bersama Amira untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang dibalik inisial ‘L.A’.
            Benar dugaanku. ‘L.A’ tahu bahwa kami mempunyai rencana untuknya. Karena selama tiga hari ini ‘L.A’ tidak mengirimkan puisi seperti biasanya. Dia seakan sudah dapat menerka segala gerak-gerik kami, seperti seseorang yang benar-benar misterius yang selalu hadir bersama langkah Amira. Hingga saat kami berhenti mencari kebenarannya, ternyata ‘L.A’ kembali mengirimkan puisi dan bunga untuk Amira.
            “Ra? Aku semakin penasaran dengan orang yang berinisial ‘L.A’ ini Ra. Bagaimana kalau dia benar-benar orang yang kita kenal?” Tanyaku serambi menyeruput kopi hangatku disebuah cafe, tempat yang biasa kami kunjungi selepas Amira Pulang dari tempat ia magang
“Aku juga enggak  Do, yang pasti adalah aku ingin banget untuk tahu atau bertemu langsung sama dia.” Jawab Amira menghela nafas panjang.
            “Umm,” sahutku dengan ekspresi santai melihat kearah rambu lalu lintas yang berdiri tegak diseberang jalan, “Kalau ‘L.A’ benar-benar menyukaimu atau mencintaimu, apa tanggapan kamu Ra?” lanjut aku bertanya.
            “Gimana ya Do? Aku juga bingung kalau menanggapi hal seperti ini. Semua yang sudah ‘L.A’ lakukan itu memang sudah membuat ruang tersendiri dihati aku. Tapi sebenarnya aku sudah punya seseorang yang sangat aku sukai Do.” Ujar amira mengerutkan dahinya. Entah mengapa pernyataan Amira yang terakhiritu  membuat hatiku bergoyak, semacam ada cakar yang mencoba menggaruk-garuknya hingga terkelupas bagian luarnya. Aku tahu itu adalah perasaan lain yang membuatku takut akan kehilangan, sehingga kata persahabatan mungkin lebih tepat agar aku dapat selalu bersama dengan Amira.
            “Kok malah bengong Do? ah, enggak asyik kamu. Aku dari tadi bicara, kamu malah bengong!” Sentak Amira melotot dan menjitakku yang saat itu tengah minum kopi dan agak sedikit melamun.
            “Hem, uhuk! Uhuk! Uhuk, maaf Ra, aku enggak bengong. Nih, lihat! Jadi tersedak akunya.” Balasku melotot pada Amira.
            “Iya, maaf.” Jawabnya sangat ketus.
            “Udah malam Ra, kita pulang yuk?” ujarku mengajak Amira pulang karena aku lihat sudah hampir jam sepuluh.
***
            Pagi ini kelas dimulai oleh pelajaran Fisika. Ibu Tendun sudah memasuki ruang kelas kami. Sedangkan pandanganku masih tidak bisa aku lepaskan dari bangku nomor satu dipojok kanan depan tempat aku duduk, bangku Amira. Aku putuskan untuk pergi kerumah Amira selepas pulang sekolah nanti karena aku begitu mengkhawatirkan keadaannya.
            Sekolah pun akhirnya usai. Aku percepat langkahku menuju tempat kendaraan roda duaku diparkirkan. Aku langsung bergegas menarik gas motorku dalam-dalam. Aku mencoba untuk secepat mungkin sampai dirumah Amira.
            Sesampai dirumah Amira, segera aku ketuk pintu dan mengucap salam tetapi tidak ada yang menjawab. Aku intip dari jendela dan hanya nampak sepi saja. Perasaanku semakin tidak karuan.
            “Maaf dek, adek cari Amira ya?” tanya salah seorang tetangga yang aku ketahui bernama Bu Jaya.
            “Iya bu, tadi Amira tidak masuk sekolah. Jadi saya khawatir dan langsung kemari.” Jelasku kepada Bu Jaya. “Amira pergi kemana ya bu? Kok dirumah juga tidak ada orang?” sambungku.
            “Jadi dek Aldo belum tau ya kalau Adiknya Amira yang namanya Gita masuk rumah sakit?” ucap Bu Jaya setengah yakin.
            “Serius bu? Sekarang mereka ada dirumah sakit mana bu? Dan sejak kapan bu? Amira kenapa tidak ada bilang sama sekali kepada saya ya?” tanyaku dengan wajah khawatir karena memang hatiku sangat tidak tenang.  Setelah mendengarkan penjelasan dari Bu Jaya, sebisa mungkin aku mengendarai motorku menembus serta merobek jalanan sore Palangka Raya menuju tempat adik Amira dirawat. Sebisa mungkin berlari memasuki pintu rumah sakit dan Segera aku bertanya kepada seorang perawat yang kemudian mengantarkan aku kekamar nomor 135. Sesampainya, jantungku sangat berdebar dan jiwaku berguncang sangat hebat. Mataku berkaca-kaca, bibirku bergetar kencang, Air mata dan keringat dingin bercampur menjadi satu menetesi baju hem yang aku kenakan. Suara elektrokardiograf terdengar sebagai musik sendu yang menembus  kaca disisi tengah pintu bersama dengan segala pandanganku. Aku lihat Amira sedang membasuh tangan Gita dengan lembutnya. Matanya sembab, sesekali air matanya tumpah kedalam mangkok kecil berisikan air basuhan untuk mandi adiknya. “Ingin sekali aku mendekat lalu memeluknya erat, memberikan pundakku agar ia kuat. Ah tidak, mungkin kedatanganku malah akan membuatnya semakin terbebani. Amira, Doaku selalu bersamamu.” Ucap hatiku yang terus bergemuruh meski sesudah aku pergi dari depan kamar 135 meninggalkan Amira bersama adiknya.
***
            Dua hari berlalu berlalu sangat cepat. Jam tanganku sudah menunjukan pukul dua siang. aku kuatkan hatiku berdiri didepan rumah sakit sambil membawakan adik Amira sekeranjang buah-buahan segar sambil berfikir, “Inilah saatnya aku membesuk Amira dan adiknya”. Tiba-tiba langkahku berhenti perlahan melihat Amira dibagian administrasi yang Sepertinya nampak sangat bingung dan seakan mendesak seorang petugasnya untuk mengatakan sesuatu.
            Didalam kamar perawatan hanya ada bunda Amira dan adik bungsunya serta Gita yang tengah terbaring.
            “Asalamuallaikum,” sapaku serambi membuka pintu lalu masuk.
            “Walaikumsalam. Oh nak Aldo, mari sini nak.” Balas sapa bunda Amira yang sangat hangat diikuti ekspresi girang Danis, adik bungsu Amira. “Ye... Ada Kak Aldo! Mah, ada Kak Aldo”. Aku letakan buah-buahan yang aku bawa diatas meja tepat disamping ranjang Gita terbaring lalu mengecup keningnya berharap agar Gita lekas sembuh. Aku sangat mengenali bunda Amira. Beliau sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Sangat asyik jika sudah mengobrol dengan Bunda Amira, sehingga aku tidak sadar kalau Amira sudah berdiri tepat didepan pintu dengan wajah penuh amarah kepadaku. Ia datang menghampiriku tanpa sepatah kata apapun lalu menarikku keluar membuat bunda Amira kebingungan.
            “Heh, untuk apa kamu datang kemari?” tanya Amira jutek kepadaku.
            “Untuk apa? Aku ini sahabatmu Ra, jadi wajar bukan kalau datang untuk menjenguk?” jawabku mengambil kedua tangannya.
            “Sahabat kamu bilang? Kemarin kamu kemana saja Do? sekarang kamu baru datang dan berlagak peduli dengan aku!” Ujar Amira meninggikan nadanya, membuang genggamanku. Sedangkan aku hanya terdiam sambil membuang paras sesalku. “Kamu jahat Do! ini lihat! Pengagum Rahasiaku lebih peduli denganku, dia yang melunasi segala administrasi adikku, dan dia enggak berharap balasan apapun dari aku. Bukan seperti kamu yang maunya hanya berharap atas persahabatan saja!” Lanjut Amira menghardikku yang aku rasa kini Amira memang benar-benar berada dalam puncak amarahnya. Aku masih terdiam, aku tidak bisa mengatakan apapun. Yang dapat aku lakukan adalah menarik kedua tangannya kembali, dan mencoba memeluknya erat meski ia terus memukuli dadaku sekuat tenaganya. Air mataku mulai berpadu bersama isak tangisnya. Seharusnya memang aku datang saat hari itu, tetapi betapa bodohnya aku.
            “Maafin aku ya Amira?” Ucapku lirih dalam tangisannya walau ia masih saja menggerutu menyebutku “jahat”. Dalam hatiku sangat menyesal pernah meninggalkan Amira.
***
            Hari ini Amira sudah masuk sekolah seperti biasa walau Gita masih harus dirawat di rumah sakit. Amira sangat nampak bahagia saat ia kembali membaca  puisi dari ‘L.A’ yang diletakkan didalam laci pagi ini. Wajahnya kembali semeringah berseri-seri bagaikan bunga mawar merah segar yang sedang mekar, kemudian ia menghampiriku dan bertanya, “Aldo? Kenapa nomor handphone kamu sekarang enggak aktif?”
“Handphone aku rusak Ra, belum sempat beli yang baru.” Jawabku.
“Oh gitu. Ini coba deh kamu lihat! Pengagum Rahasiaku itu kasih puisi untukku pakai tulisan tangannya sendiri Do! Biasanya kan ditulis dengan . . .” tiba-tiba Amira berhenti bicara, “Sebentar dulu, kok kayaknya tulisannya enggak asing ya untukku?” Sambung Amira serentak merebut puisi yang sedang aku pegang.
            “Udahlah kita bahas nanti saja Ra, sekarang kita masuk kelas dulu.” Ajakku berbarengan dengan suara bel.
            Semua siswa sudah duduk dengan rapinya saat pelajaran dimulai. Tiba-tiba kepala sekolah memasuki kelas. Ternyata pagi ini ada razia dadakan. Pastinya anak-anak yang banyak ulah membawa rokok atau film XXX akan disemprot habis oleh kepala sekolah, bahkan diskors atau di DO dari sekolah. Aku diminta kepala sekolah untuk embantu menggeledah tas teman-temanku mulai dari pojok belakang. Entah datangnya dari mana, langsung saja kepala sekolah memukul meja Amira dengan sekencangnya. Aku sempat tersentak kaget. Pikiranku tak percaya atas apa yang aku lihat. “Enggak mungkin Amira membawa barang haram seperti itu”, gumamku dalam hati. Kepala sekolah mulai melontarkan segala hujatan kepada Amira, sedangkan ia mencoba sebisa mungkin untuk membela diri. Orang-orang dari kelas lain mulai menggerumuni selasar depan kelas atas keributan yang terjadi. Aku mulai mendengar cemoohan tentang Amira dari beberapa mulut. Aku sungguh tidak tahan. Ingin sekali aku menyumpalinya dengan tas yang aku pegang.
            “Jangan mengelak lagi kamu! Buktinya, Ekstasi ini berada di tas kamu! Kamu tahu bukan konsekuensi yang akan kamu dapatkan membawa barang ini ke area sekolah?” Ucap kepala sekolah dengan nada yang sangat tinggi dengan menunjuk-nunjuk muka Amira yang kian menunduk pasrah disalahkan. “Kamu akan kami keluarkan dari sekolah ini.” Lanjut kepala sekolah sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
            “Tidak! Anda tidak bisa mengeluarkan Amira begitu saja Pak!” Teriakku spontan yang membuat semua orang menoleh kepadaku. “Pasti ada orang yang sengaja meletakkan barang itu kedalam tas Amira.” Kataku melirik kebeberapa orang yang berada disekelilingku.
            “Bagaimana bisa? Memang menurut kamu siapa yang berani melakukan hal rendah semacam ini? Kamu tidak perlu membela orang yang jelas bersalah!” Tegas kepala sekolah hingga semua orang akhirnya menjadi hening.
            “Sayalah yang memasukan barang itu ke dalam tas Amira Pak.” Ucap bibirku yang membuat aku sendiri bingung dengan apa yang aku lakukan. “Apa yang aku ucapkan barusan? Bodohnya aku mengakui kesalahan orang lain. Bukan, Amira bukan orang lain. Bukan juga, dia bukan siapa-siapa. Tapi, tapi dia adalah sahabat baikku. Aku begitu menyayanginya, aku ingin dia tetap bersekolah disini.” Ujarku rancu dengan memandang jauh ke dalam bayangan wajah Amira yang sedari tadi menangis sendu dihadapan banyak orang. Sedangkan tubuhku masih bergetar hebat menggenggam perasaan sambil memantabkan hati atas apa yang akan aku korbankan setelah ini. “Saya melakukan ini karena saya benci dengan Amira. Tapi saya kira tidak akan fatal seperti ini. Saya akan bertanggung jawab Pak. maka dari itu, biarlah saya yang dikeluarkan dari sekolah ini.” Kataku mencoba bersikap seperti orang bijak dan lalu pergi bersama pandangan orang-orang yang melihat bodoh. Mereka tahu bahwa aku hanya mencoba menyelamatkan Amira, mereka seakan tidak percaya kalau seorang ketua OSIS yang disegani banyak orang sepertiku dapat bertindak bodoh seperti ini.
            “Aldo!” Teriak Amira seraya berlari mengejarku yang sudah berada didepan parkiran sekolah dengan bercucuran air mata. Dengan nafas yang masih terengah-engah dan tanpa memberikan alasan apapun, tiba-tiba langsung saja tangan kanan Amira menamparku dengan kerasnya, “plak!” begitulah kira-kira suaranya. “Dasar kamu ya! Kenapa sih berlagak jadi pahlawan segala untukku? Kamu ngapain bohong sama kepsek? Aku tahu ada yang orang sabotase semua ini, tapi enggak begini cara menyelesaikannya Do!” Bentak Amira kepadaku yang masih menunduk mengusap pipi bekas tamparan Amira. “Kamu enggak boleh pergi Do!” tuturnya yang membuat tangisnya semakin hebat.
            “Menjauh dariku!” sentakku kepada Amira sambil Menghempaskan tangannya yang akan mendekapku. “Sungguh bagaimana bisa kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku? Aku yakin kamu sudah sangat kecewa kepadaku. Biarlah, lagipula beberapa minggu lagi ujian. Aku hanya takut kalau masalah ini kita usut nanti kamu enggak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikannya sebelum ujian. Jadi, biarkan sekali ini aku berkorban untukmu, Amira.” Tuturku dalam hati seraya meniggalkan Amira seorang diri yang tengah duduk menunduk didepan parkiran.
***
            Sekarang tepat tanggal 1 April 2012 dikalender kecil yang terletak di atas meja belajarku. Teringat aku bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Amira  yang ke-17. Aku selalu berfikir bahwa mungkin Amira masih membenciku karena semenjak kejadian itu, Amira tidak pernah sama sekali menghubungiku. Hari ini pula aku harus pergi memeriksakan diri kedokter spesialisku bersama Kak Jordan yang baru saja datang dari Bandung. Kakak kandungku itu sengaja datang jauh-jauh dari Bandung hanya ingin tahu hasil pemeriksaan yang aku jalani beberapa tahun terakhir ini. Mungkin ia mengetahui penyakit yang aku derita dari mamah.
            Seketika fikiranku meledak bersama rinduku kepada Amira dan derasnya darah yang mengalir dari dalam hidungku. Sebisa mungkin aku berlari meninggalkan Kak Jordan yang berada dirumah sakit walau dalam keadaan lemah dan tertatih. “Maafkan aku Amira, waktuku sudah tidak banyak. Aku harus bisa ungkapkan semua ini kepadamu Ra.”  Ucapku dalam hati yang risau.
Disebuah Cafe tempat biasa aku dan Amira bertemu, aku hentikan langkahku dan memesan serta menyiapkan sebuah meja dan sepasang kursi untuk merayakan ulang tahun Amira. Nuansa identik romantis mewarnai tempat itu sekarang, dengan sebuah pot mini diatasnya yang berisikan mawar merah kesukaan Amira. Disamping bunga mawar itu aku letakkan sebuah kotak merah dengan pita merah muda sebagai kado ulang tahun untuk Amira agar ia mau memaafkanku. Dengan menggunakan sebuah taxi, aku berniat akan menjemput Amira dan agaknya terbayang bagaimana ekspresi marah Kak Jordan yang tadi aku tinggalkan.  Karena bermaksud ingin memberi surprise kepada Amira, akhirnnya aku meminta taxi  yang aku tumpangi untuk berhenti didepan sebuah gang tidak jauh dari Amira. Meski terlihat seperti orang yang terlunta-lunta, aku tetap berusaha berlari sekencang mungkin walau bau anyir kembali memenuhi rongga hidungku. Tiba didepan rumah Amira aku coba atur nafasku yang masih terengah-engah sambil mengelap darah yang nian membanjiri hidungku. Sebelum aku mengetuk pintu, terlebih dahulu aku mengintip kedalam lewat celah gorden yang sedikit terbuka, dan betapa kagetnya aku dengan apa yang aku saksikan. Harapan yang aku miliki sejak lama telah hancur hingga berkeping-keping bersama hancurnya perasaan dan hati ini yang begitu terasa sakit melebihi sakit dari tubuh yang aku rasakan. Seperti ada pisau yang menusuk hati ini sedemikian dalamnya  sehingga meninggalkan darah dalam tangisan merdu yang air matanya kini mulai membasahi pipiku. “Bagaimana bisa Seorang lelaki selain aku dapat mendapatkan pelukan dari Amira sebegitu eratnya?” ucap sekeping hatiku yang ingin berontak masuk kedalam dan berteriak sekencang mungkin meski disitu terdapat Frida teman sekelas kami dan Bunda serta adik-adik Amira yang semuanya dalam keadaan menangis. Tapi wajah mereka semua nampak buras aku lihat, mungkin karena terhalang oleh kaca atau mungkin memang karena pandanganku yang sudah mulai kabur. Aku tidak ingin membuat hancur suasana kedekatan mereka, mungkin mereka sedang merayakan ulang tahun Amira dan aku bukanlah tamu yang diundang. Dengan membawa segala perasaan yang hancur dalam tangisan, aku coba sekali lagi untuk menguatkan tubuhku agar dapat berlari sejauh mungkin dari tempat itu. Sejauh dan sebisa mungkin aku pergi meski masih terbayang wajah Amira dalam relung hatiku hingga akhirnya disaat aku harus menyebrangi jalan, langsung saja sebuah truck menyambarku dengan begitu kencangnya. Akan tetapi, aku masih cekatan untuk menghindari truck tersebut meski lenganku sedikit memar karena berhantaman dengan aspal. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, Sampailah aku dicafe yang tadi aku kunjungi. Meja dan kursinya masih sangat tersusun rapi seperti saat aku tinggalkan, bahkan bunga dan kado untuk Amira tidak sama sekali bergeser dari tempatnya, mungkin memang karena pemilik cafenya masih menunggu aku kembali. Dari kejauhan nampak bayangan Amira menghampiri cafe tempatku menunggunya sekarang. Aku mencoba sabar dan mengerti keadaan bahwa ia memang mencintaiku, tapi hanya sebagai sahabat. Aku pandang salah seorang pekerja dicafe itu dan ia balas memandangku dalam. Ia seakan langsung mengerti maksudku, kemudian menjemput Amira dan mengantarkannya ditempat aku duduk sekarang dengan tangan dan jari-jari yang memar. “Amira? Akhirnya kamu datang juga. Tadi aku akan menjemputmu dirumah. Tapi aku fikir kedatanganku hanya akan mengganggumu, jadi aku urungkan niatku itu. Apakah kamu masih marah denganku?” Ujarku yang hanya dibalas sebuah senyuman oleh Amira sambil menghirup dalam-dalam dari aroma bunga mawar yang aku berikan diatas meja. “Ini coba kamu lihat diriku! Tanganku memar karena jatuh tersandung batu saat hendak menjemputmu tadi.” Sambungku berbicara yang kembali disahut hanya dengan sebuah senyuman. “Selamat ulang tahun ya Amira, sahabatku yang paling baik. Semoga panjang umur dan keinginan kamu jadi seorang ibu dokter lekas menjadi kenyataan.” Kataku semeringah penuh semangat sambil menyodorkan kado yang sudah aku siapkan tanpa berani menyentuh atau menggenggam tangannya. Ia hanya memandangku erat dan seketika tangisnya kembali meledak setelah membuka kado yang aku berikan. “Maaf Ra, aku hanya bisa memberikan kamu itu. Aku tahu kalau kamu tidak menyukainya” Ucapku lirih kemudian diiringi isak tangis kami berdua yang membuat semua orang dicafe itu melirik kepada kami.
“Iya Ra, akulah ‘L.A’. Aku lah orang yang berada dibalik topeng Pengagum Rahasia kamu itu. Walau hanya sebagai sahabat, tapi aku tetap ingin kamu selalu bahagia. Sejak kepergian ayahmu, aku tahu bahwa Amira yang aku kenal sudah berubah menjadi orang lain yang pemurung, menyendiri, dan tertutup. Sejak itu pula aku membuat janji bahwa aku akan mengembalikan Amira  seperti sedia kala, hingga senyuman dan kebahagiaan itu kembali menjelma dalam paras yang cantik itu Ra. Dengan segala kebohongan itu, aku coba mengembalikan semuanya. aku memang egois, aku jahat! Bagiku pengorbanan ini akan sebanding jika kamu bahagia Ra. Aku sangat mencintai kamu lebih dari seorang sahabat Ra. Aku sudah mengakuinya sekarang, aku tidak berharap banyak atas cinta ini. Walau kamu tidak menjawabnya sekarang, tetapi aku akan setia menunggu jawaban dari kamu Ra.” Ujarku lega tanpa ada lagi sebuah beban meski Amira masih saja menangis menyamakan kedua puisi tulisan tanganku sendiri. Tiba-tiba mataku terpaku dengan secarik kertas yang kemudian Amira pungut dari dalam saku celana jinsnya. “Itu adalah surat keterangan dokter yang seharusnya Kak Jordan ambil setelah pemeriksaan tadi.” Ucapku dalam batin. “Dari mana kamu dapatkan kertas itu Ra?” tanyaku.
“Aku sudah tahu semuanya kok Do, kenapa semua ini harus terjadi? Betapa bodohnya aku selama ini tidak dapat meyadari semuanya,” ujar Amira. Aku hanya terdiam merenungi semua. Cinta memang harus memiliki. Munafik saja jika orang mengatakan cinta tidak harus memiliki., namun pengorbanan memang tidak selalu terlihat jelas, yang ada hanya meninggalkan penyesalan saat dipenghujung cerita. Memang bukan kado yang istimewa, hanya sebuah kotak biasa berisikan puisi dari seorang ‘L.A’, Loving Amira.

Angin berhembus perlahan membawa ribuan rindu,
Beku dan bisu mengunci setiap sudut hati yang beku,
Hanya suara embun yang datang mengusikku,
Kado terakhir adalah ungkapan,
Auramu menarikku dalam duniamu,
Jadikan aku raja bagimu dalam istana hatimu,
Walau kini aku tak lagi temani ragamu,
Cintaku hanya untuk engkau seorang.

            “Aku juga sangat mencintai kamu Aldo! Orang yang aku sukai itu adalah kamu. bukan Pengagum Rahasia atau siapa pun. Aku hanya mencintai kamu Do.” Aku sangat terkejut mendengar apa yang ia ucapkan. Jantungku tidak sama sekali berhenti berdebar mengakibatkan tubuh ini gemetar hebat dan semakin terguncang setelah Amira mengatakan hal yang tidak bisa aku percaya, “Tapi kamu sekarang ada dimana Do? cepatlah kembali.” Ujar Amira seraya menangis. Tidak bisa aku percaya dengan apa yang terjadi. Aku pandang matanya dalam, tak luput pula aku lihat orang-orang dicafe itu yang memandangku kosong. Aku masih bingung dan memandangi sekujur tubuhku, sampai tiba-tiba Amira berdiri menjatuhkan kado dariku bersama handphone yang ia gunakan barusan untuk menerima sebuah panggilan. Spontan Amira berlari meninggalkan cafe sekencang mungkin. Sedangkan aku yang masih bingung mecoba mengejarnya meski jalanku gontai. Disebuah persimpangan jalan tidak jauh dari cafe, aku lihat ramai banyak orang menggerumuni mobil ambulance. Disana aku lihat ada Kak Jordan, Frida dan juga Amira yang terdengar isak tangisnya begitu keras. Aku baru menyadari bahwa Laki-laki yang ada dirumah Amira adalah Kak Jordan. Setelah berdesakan masuk kedalam gerumunan, perlahan aku mendekat dan memegang erat pundak Amira. Aku amati juga seorang laki-laki tidak bernyawa berlumuran darah yang membuat Kak Jordan, frida, dan Amira menangis histeris. Dia adalah aku.

Ungkapan yang bermakna adalah ungkapan yang berasal dari hati yang sederhana, kado tersiratlah yang dapat aku berikan disetiap mampuku. Walau kini hanya sebuah kotak kado kosong yang aku berikan, tapi sebenarnya kotak itu berisi cinta serta hati yang tidak terlihat mata orang biasa. Meski aku tahu cinta bukannya hanya kepada seorang, bisa saja orang tua, sahabat, dan yang pasti tuhan. tidak pernah menerima sebuah kado dihari spesialku, tapi aku sangat senang sempat bersamanya. Karena bagiku dia adalah kado yang tuhan berikan kepadaku untuk setiap hari. Kotak Kado Terindah Untuk Amira.

TAMAT 

0 komentar: