Kamis, 20 Juni 2013

Ketegaran Cinta Bertasbih

17.17

Share it Please
Seorang sahabat, Mimi namanya, kami bersahabat puluhan tahun sejak kami sama - sama duduk di bangku SD. Selama beberapa tahun itu aku mengenalnya, sangat mengenalnya, Mimi gadis sederhana, anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja akan runtuh hatinya jika memandang senyumnya, termasuk aku. dan nilai tambahnya
adalah dia seorang yang sangat sholehah, yang patuh pada kedua orang tuanya.
Tetapi Ranu, Laki - laki yang satu ini juga sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak menggoyahkannya untuk merebut hati Mimi. Sedangkan aku hanya bisa menatap cinta dari balik senyuman tipis ketegaran. Setiap pagi hari, petugas rutin kantor pos pasti sudah nangkring di sudut rumah besar di ujung gang kampung kami, (rumah Mimi). Menunggu pemilik rumah membukakan pintu demi dilewati selembar surat warna merah jambu milik Ranu untuk sang pujaan hatinya. Sedang Mimi yang semula tak bergeming, menjadi kian berbunga-bunga diserang ribuan rayuan gombal milik Ranu.
Mereka pun pacaran dari mulai kelas VII SMP bayangkan, hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman yang baik, aku hanya bisa mendukung dan ikut bahagia dengan keadaan tersebut. (walaupun hati ini meratap) Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama bisa menjaga dirinya, hingga ke Pelaminan, Insyaallah.
Hingga tiba ketika selesai kuliah, mereka berdua ingin mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga, yang sakinah, mawaddah, dan warohmah.
Namun, namanya hidup pasti ada saja kendalanya, dibalik kesejukan melihat hubungan mereka yang adem anyem, orang tua Ranu yang salah satu anggota di DPR itu, menginginkan Ranu menikahi orang lain pilihan kedua orang tuanya, namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi, sehingga mereka memutuskan untuk menikah, sekalipun diluar persetujuan orang tua Ranu, dan secara otomatis Ranu, diharuskan menyingkir dari percaturan hak waris kedua orang tuanya, disertai sumpah serapah dan segala macam cacian.
Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi, setelah menikah, mereka pergi menjauh keluar dari kota kami Palangka Raya, menuju Sampit, dengan menjual seluruh harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah tidak ada, (semenjak Mimi di bangku SMA, orang tuanya kecelakaan). Untuk mengadu nasibnya menuju ke Sampit      "Kota Bertuah" Istilah si Mimi dan Ranu.


Aku hanya dipamiti sekejap, tanpa bisa berkata-kata, hanya saling bersidekap tangan didada dan terharu panjang, Mimi menitipkan salam untuk Ibu yang sudah dianggapnya seperti Ibunya sendiri.
Masih tajam dalam ingatan, Mimi pergi bergandengan tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”, melenggang pelan bersama mobil yang membawa mereka menuju "Kota Bertuahnya" Sampit.
Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar, hingga tahun kelima, dimana aku masih membujang dan masih menetap tinggal di Palangka Raya, sedang Mimi entah kemana, hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat terakhir mengabarkan bahwa dia melahirkan anak keduanya, kemudian setelah itu kami tidak mendengar kabarnya, lagi.
Bahkan Ibuku yang sudah berhijrah hampir tiga tahun ini di Sampit tempat kakakku juga tidak bisa melacak keberadaan Mimi, Mimi lenyap ditelan bumi, hanya do’a aku dan Ibu serta sahabat-sahabat yang lain yang masih rutin kami panjatkan, untuk keberuntungan Mimi di sana.
Sampai di suatu siang yang terik, di hari sabtu, kebetulan aku berada dirumah karena kantor memang libur dihari sabtu dan minggu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara ketokan pintu dikamar, mbak Inul pembantu kami mengabarkan ada tamu dari Sampit,
“Siapa gerangan?” pikir aku ketika itu. Setelah aku temui, lama sekali aku memeperhatikan tamu tersebut, perempuan cantik berkulit putih, tapi bajunya sangat lusuh beserta ketiga anaknya, yang dua laki-laki kurus, bermata cekung terlihat sangat kelelahan, dan seorang bayi mungil dalam gendongan.
Sejenak aku tertegun, lupa-lupa ingat, hingga suara perempuan itu mengejutkan aku.
" Faris….Faris khan !", sejenak, dia ragu-ragu, hingga kemudian berlari merangkulku, sambil terisak keras dibahuku, saat itu aku hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau melakukan apa, dan aku tidak bisa menepis karena hal ini bukan muhrimnya.
Lalu setelah ia puas menangis, pelukan itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis bayi Mimi yang keras, yang rupanya tanpa kami sadari telah menyakitinya, dan menekan bayi itu dalam pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah mengampuni…..
Aku menjauhkannya dari bahuku sambil masih ragu, berguman pelan.
"Mimi…Mimikah ?" Masyaallah…!, sekarang giliran aku yang ingin merangkul Mimi, tapi karena syari’at masih membayang dibatin. Aku hanya bisa bersidekap tangan didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat kondisinya. Anak-anak Mimi yang melihat kami hanya termanggun, Mimi terlihat lebih tua dari usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas, badannya kurus, dengan jilbab lusuh, yang berwarna buram, membawa tas koper berukuran besar yang sudah cuil dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau juga benturan berkali-kali, seperti orang yang telah berjalan berpuluh-puluh kilometer.
Tanpa dikomando, aku langsung mempersilahkan Mimi masuk kedalam rumah, membantu membawakan barang-barangnya, dibantu mbak Inul, meletakkan barangnya di ruang tamu, rumahku.
Menunda beberapa pertanyaan yang telah menggunung dipikiranku, aku menatap dalam-dalam, Mimi sedemikian berubahnya, perempuan manis yang dulu aku kenal kini terlihat sangat berantakan, Masyaallah !, Mimi …ada apa denganmu!.
Aku menunda pertanyaan aku, hingga Mimi dan anak-anaknya mau aku paksa beristirahat beberapa hari dirumahku, ia tidur dikamar ibu yang sudah dirapikan mbak Inul, aku rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya.
Beberapa hari beristirahat dirumahku, aku baru berani menanyakan tentang kabar keadaannya sekarang. Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan.
Semula Mimi terdiam seribu bahasa pada saat aku tanya keadaan Ranu, matanya berkaca-kaca, aku menghela nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam hitungan menit hingga keluarlah suara parau dari mulutnya…
"Mas Ranu, Ris….sudah berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu.”
"Oh..." desahku pelan, kata-kata Mimi membuatku tercekat beberapa saat, namun sebelum aku sempat menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil setengah meracau.
"Mas Ranu kena kanker paru-paru, karena kebiasaannya merokok tiga tahun yang lalu, semua sisa peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes, untuk biaya berobat, sedang penyakitnya bertambah parah, keluarga mas Ranu enggan membantu, kamu tahu sendiri khan, aku menantu yang tidak diinginkan, dan ketika Mas Ranu meninggal, orang tuanya masih saja membenciku, mereka sama sekali tidak mau membantu, aku bekerja serabutan di Sampit, Ris.., mulai jadi tukang cuci, pembantu rumah tangga, dan sebagainya, hingga Mas Ranu meninggal, keluarganya hanya memberiku uang sekedarnya untuk penguburan Mas Ranu, hingga aku terpaksa menjual rumah tempat tinggal kami satu-satunya, dan dari sana aku membayar semua tagihan rumah dan hutang-hutang pada tetangga, sisanya aku gunakan untuk berangkat ke Palangka Raya, aku tidak sanggup mengadu nasib disana Ris…." Kata-kata Mimi berhenti disini, disambut isak tangisnya, sedang aku yang sedari tadi mendengarkan tak kuasa juga menahan haru yang sudah sedari tadi menyesak di dada.
Setelah kami sama-sama tenang, aku bertanya pada Mimi "Lalu apa rencanamu, Mimi ?.” Mimi tertegun… dia memandangku nanar, aku menundukkan pandangan, karena aku takut terbawa rayuan syetan. kemudian dia mengulurkan tangan, memberikan seuntai kalung emas besar, "Sisa hartanya " begitu kata Mimi.
"Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami aku uang untuk modal usaha, dan kontrak rumah kecil-kecilan, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini Ris...”
Aku yang menahan haru, sontak mataku langsung mengalirkan sesuatu, walaupun aku lelaki, namun hati ini bertindak sebagai makhluk tuhan yang berperasaan. kembali kami hanyut dalam haru.
Pelan-pelan aku, meraih kalung itu dari meja, menimbang-nimbang, pikiran aku melayang menuju sisa uang aku di amplop, dalam tas, Jum’at kemarin aku baru saja mendapat lemburan, sebagai pegawai di suatu instansi, nilai lembur aku sangatlah kecil jika dibandingkan dengan pegawai yang lain tentunya, tapi itulah sisa uangku, aku mengeluarkan amplop tersebut dari dalam tas, di kamar, semua aku infaqkan untuk Mimi, semata mata karena ikhlas.
Mimi menatap amplop di tanganku, sejurus kemudian aku meletakkan amplop tersebut diatas meja sambil berkata...
"Ini sisa uangku Mimi, kamu ambil, nanti sisanya, biar aku pikirkan caranya, kamu butuh modal banyak untuk mulai usaha."
Keesokan harinya, aku menjual kalung Mimi, pada sahabat baik aku yang lain, kebetulan ia seorang pemodal-muslim, yang baik hati,.. "Thanks ya Hans.”., aku menceritakan tentang keadaan Mimi pada mereka, Hans dan Istrinya banyak membantu " Ya Allah limpahilah berkah pada orang-orang baik seperti mereka.”
Singkat cerita, Mimi bisa mulai usahanya dari modal itu, mengontrak rumah kecil didekat rumahku, Alhamdulillah !, sekarang ditahun kedua, usahanya sudah menampakkan hasil, Mimi sudah sedemikian mandiri, banyak yang bisa aku contoh dari pribadinya yang kuat yaitu Mimi adalah pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif.
Kuat karena Mimi enggan bergantung pada orang lain, dan tegar karena diterpa cobaan bertubi-tubi, Mimi tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia juga Smart, tahu dimana dia harus meminta pertolongan pada orang yang tepat, dan tentu saja muslimah yang taat beribadah, hingga Allah pun tak enggan membantunya.
Aku hanya berpikir dan yakin pasti ada jutaan Mimi-Mimi diluar sana, akan tetapi pastinya sangat jarang yang melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya dengan Indahnya.
Aku hanya ingin berbagi…..cobalah kita lihat, Mimi tetangga aku kini dan setiap pagi selalu menyapa riang aku, wajah cantiknya kembali bersinar, meskipun ia menyandang status janda. Yang kemudian dia tekun mendengar keluh kesahku pada setiap permasalahan yang ku hadapi setiap harinya, termasuk ketika aku mulai mengeluh tidak betah dikantor sebagai pegawai sekian tahun, atau ketika aku menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah berkepala tiga, apa kata Mimi?
"Faris, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan seseorang atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan kamu tidak.”
Subhanallah ! Mimi, contoh kekuatan wanita muslimah, ada disana. Dan jika aku sudah menyerah kalah pada permasalahan bertubi-tubi dalam hidupku, maka Mimi membawa aku menuju pintu rumah mungilnya, didepan pintunya, aku melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu yang ia jadikan ruang tidur, sedangkan kamar tidur ia jadikan dapur untuk memasak, (sungguh rumah yang mungil) mereka berjejal pada tempat tidur susun yang reyot, dan juga tempat tidur gulung kecil dibawahnya, tempat si sulungnya tidur, kemudian katanya,
"Lihatlah Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa bantuan bahu yang lain, kalau tidak terpaksa karena nasib, enggan aku menajalaninya, Ris, sedang kamu, bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang panjang .”
Duh, gusti betapa baik hati Mimi ini, betapa malu aku dihadapannya, cobaan aku, tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa aku jarang bersyukur, sering mengeluh, dan sering merasa kurang.
"Stupid mind in the Stupid ordinary " Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya menumbuhkan satu prinsip dihatiku bahwa
" Karena aku adalah lelaki, aku harus  kuat dan tegar lebih dari wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika mungkin jauh lebih kuat dan tegar demi tangan-tangan mungil yang mungkin akan menjadi tangan-tangan perkasa yang siap mencengkram dunia, Insyaallah Amien..."
Singkat cerita, aku pun berhenti dari pekerjaan yang lama, sekarang aku bekerja lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja aku melintas didepan rumah Mimi, dan terus memperhatikan ketegarannya, akhirnya Allah menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Dalam hati, Mimi bertakbir dan bertahmid melihat kekuasaan Allah.. Allahu Akbar….

0 komentar: