Kamis, 20 Juni 2013

Penjara Jiwa

17.20

Share it Please
Aku sibakan tirai panggung kehidupan dalam catatan diaryku
Aku tuliskan sebuah cerita lampau dengan torehan tinta yang abadi
Aku coret tulisanku yang salah dengan tinta maaf
Aku benahi tulisan yang kurang dengan tinta harapan
Aku tambahkan pula kata-kata pantas dengan tinta terimakasih
  Tak sengaja aku buka halaman yang lama terlupakan, terpendam dalam kelam
  Teringat pandangan mata memesona yang pernah menjadikan aku kuat
  Kuat akan seribu satu cemoohan, hujatan akan semua luka yang membekas erat
  Masih tersisa serpihan-serpihan bekas kaca yang bersemayam dalam jantungku
  Membuang pun tidak bisa, memungut pula menambah luka
Ingin ku malam tiba membias kegalauan dari mata ini, walau sejenak
Menghanyuti kegelisan nasib, menyeret tanganku jauh
Sakiti tubuh, memenjarakan jiwa, masuki dunia yang tidak nyata
Satu dalam asaku, selalu aku mencoba bebas dari jeritan panjang
Tenggelam ku dalam lautan duka
Tanpa pelukan, sentuhan, dan tatapan rindu dengan kasih sayang
Titik puncak keputusasaan menjelma, titisan dewa menyentuh kalbu
Menggenggam hati dan cita, mengumpat kepedihan menaungi sumpah
Bukti seribu satu luka akibat gagak-gagak berparas dara tanpa dosa
Biar aku bungkam! Toh, aku rasa bukan hak mereka mencambuk jalanku
Aku jejali mulut-mulut itu dengan sejuta kertas surat dari surga
Aku bawa mereka terbang dengan sayap gelak tawa mereka sendiri
Tidak perlu langit ketujuh, cukup langit pertama
Dengan hebat aku hempaskan gagak kecil ini sampai mencumbu bumi
                   Bedebah! . . .
                   Kini Akulah seorang raja
                   Rakyat jelata tak lagi sebagai tanda asa dan tahta
                   Aku muak, aku benci, sebab taman surga tidak lagi menyapa
Cinta dan kasihmu lebih menjelma jiwa dalam penjara
Ini bukan caraku,
Ini bukan penyelesaian akhir kisahku,
Aku adalah aku, bumi dan langit adalah pelajaranku
Neraka dalam asa sudah berhenti bicara, kini tinggallah surga
        Kata maaf tak lagi berguna dalam dongeng belaka
Harapan ku merantai menjiwa tanpa gembok penjara
Dan kamu! kamu! kamu! . . .
Terimakasih telah mengajarkan aku arti dari sebuah kesabaran

0 komentar: