Aku tuliskan
sebuah cerita lampau dengan torehan tinta yang abadi
Aku coret
tulisanku yang salah dengan tinta maaf
Aku benahi
tulisan yang kurang dengan tinta harapan
Aku
tambahkan pula kata-kata pantas dengan tinta terimakasih
Tak sengaja aku buka halaman yang lama
terlupakan, terpendam dalam kelam
Teringat pandangan mata memesona yang pernah
menjadikan aku kuat
Kuat akan seribu satu cemoohan, hujatan akan
semua luka yang membekas erat
Masih tersisa serpihan-serpihan bekas kaca
yang bersemayam dalam jantungku
Membuang pun tidak bisa, memungut pula
menambah luka
Ingin ku malam
tiba membias kegalauan dari mata ini, walau sejenak
Menghanyuti
kegelisan nasib, menyeret tanganku jauh
Sakiti tubuh,
memenjarakan jiwa, masuki dunia yang tidak nyata
Satu dalam
asaku, selalu aku mencoba bebas dari jeritan panjang
Tenggelam
ku dalam lautan duka
Tanpa
pelukan, sentuhan, dan tatapan rindu dengan kasih sayang
Titik
puncak keputusasaan menjelma, titisan dewa menyentuh kalbu
Menggenggam
hati dan cita, mengumpat kepedihan menaungi sumpah
Bukti
seribu satu luka akibat gagak-gagak berparas dara tanpa dosa
Biar aku
bungkam! Toh, aku rasa bukan hak mereka mencambuk jalanku
Aku jejali
mulut-mulut itu dengan sejuta kertas surat dari surga
Aku bawa
mereka terbang dengan sayap gelak tawa mereka sendiri
Tidak perlu
langit ketujuh, cukup langit pertama
Dengan hebat
aku hempaskan gagak kecil ini sampai mencumbu bumi
Bedebah!
. . .
Kini
Akulah seorang raja
Rakyat
jelata tak lagi sebagai tanda asa dan tahta
Aku
muak, aku benci, sebab taman surga tidak lagi menyapa
Cinta dan
kasihmu lebih menjelma jiwa dalam penjara
Ini bukan
caraku,
Ini bukan
penyelesaian akhir kisahku,
Aku adalah
aku, bumi dan langit adalah pelajaranku
Neraka dalam
asa sudah berhenti bicara, kini tinggallah surga
Kata maaf tak lagi berguna dalam dongeng
belaka
Harapan
ku merantai menjiwa tanpa gembok penjara
Dan kamu!
kamu! kamu! . . .
Terimakasih
telah mengajarkan aku arti dari sebuah kesabaran

0 komentar:
Posting Komentar