Kamis, 20 Juni 2013

Sajak Terakhir Untuk Chairil

17.28

Share it Please

Pagi yang indah, burung mulai bernyanyi merdu menantang fajar menyambut para siswa disalah satu sekolah SMA ternama di Jakarta. Kumpulnya anak ABG mengisi keheningan disekolah selama fajar mulai menyongsong hingga lengser.
Sekelibat orang mulai terpanah terpaku melihat seorang gadis yang turun dari angkot dengan gaya yang dikalangan remaja dapat dikatakan tidak gaul tetapi tidak juga jadul. Namanya adalah Lia Anggarwati. Lia adalah siswa jurusan IPA. Gadis yang berumur enam belas tahun ini juga telah banyak menyumbangkan piala untuk sekolahnya melalui olimpiade yang ia ikuti semenjak awal kelas X. Walaupun gayanya yang bisa dibilang biasa saja, tetapi dia cukup popular disekolahnya karena kepandaiannya dalam segala bidang mata pelajaran dan mungkin karena parasnya yang memang sudah nampak begitu cantik meski tanpa alat kosmetik seperti yang dipakai teman-temannya yang nampak menor abis, atau mungkin dia tidak memakainya dikarenakan sifatnya yang benar tidak suka Neko-neko, karena pada dasarnya Lia adalah anak orang yang dapat dibilang berkecukupan.
Banyak lelaki yang begitu mengagumi Primadona sekolah tersebut, bahkan seperti pagi ini saat Lia akan memasuki gerbang dengan gaya yang menurut mereka sendiri sudah paling keren. Tetapi Lia tidak pernah menghiraukannya dan terus akan berjalan ke perpustakaan sekolah tempat kesukaannya.
Bel berbunyi tanda kelas akan dimulai, Lia bergegas menuju kelasnya yang berada dilantai atas. Pelajaran baru saja akan dimulai, tiba-tiba kepala sekolah masuk ke kelasnya dan memperkenalkan siswa baru yang cukup cool dan dari gayanya, ya bisa dibilang Oklah. “Chairil”, itulah namanya, dan ia merupakan siswa pindahan dari Jakarta. Setelah perkenalan, Chairil duduk tepat dibelakang Lia ,karena memang bangku dibelakangnya masih kosong.
Dijam istirahat siang, sapaan seseorang mengejutkan Lia yang tengah asyik membaca buku dikantin sekolah. sambil melihat buku yang dipinjam diperpus tadi. Ternyata itu adalah Chairil. Lalu tanpa basa-basi lagi, keduanya mengobrol sambil bercanda ria kesana-kesini. Sekejap, orang-orang dikantin tentu saja kaget melihat mereka berdua yang langsung dapat akrab,karena setahu mereka Lia adalah gadis yang paling susah didekati cowok, apalagi dengan orang yang baru dikenal. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan bahwa Chairil adalah teman masa kecil Lia dulu saat SD dan SMP. Semenjak keluarga Lia pindah keluar kota, semenjak itu pula Lia dan Chairil tidak pernah berkomunikasi lagi. Akhirnya kini bahagia bagi Chairil dapat bertemu kembali dengan gadis yang ia sukai semenjak kecil itu.
    Hari demi hari terus berlalu, semua kenangan saat kecil dulu membuat Chairil merasa semakin dekat dengan Lia, begitu pun sebaliknya. Bahkan terkadang keduanya nampak berangkat sekolah bersama, keperpustakaan bersama, ke kantin dan pulang sekolah bersama. Chairil yang menyukai Lia tapi tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, karena ia tahu bahwa perasaannya tidak mungkin terbalas, fikirnya. Apalah daya, ia hanya dapat memendam perasaan itu, melihat Lia tersenyum saja pun sudah merupakan keindahan tersendiri bagi dirinya. Tetapi sebenarnya, jauh didalam hati seorang Lia , ia juga mengharapkan teman semasa kecilnya itu untuk dapat menjadi kekasihnya meski sempat terbelenggu oleh jarak.
Dihari yang biasa, diantara keduanya pun juga hanya biasa saja meski tampak ada yang spesial jika dipandang.
“Kini aku berjumpa denganya, ya Allah jangan lagi jauhkan dia dariku.. bukan berarti dengan ada dia aku akan menjauh dariMu tapi dengan ada dirinya, malah akan membuatku lebih dari baik dan tidak membuat jauh dariMu. tapi aku tetap berpasrah padaMu”, ucap Lia bersama sujudnya dihamparan sajadah dengan do’a.
     Tanpa ada kompromi, ternyata Chairil juga mendo’a akan hal yang sama dan sebaliknya begitu. Lalu ia membuat beratus-ratus puisi untuk Lia dan ia memang sangat menyukai puisi yang ditulis oleh Charil semenjak kecil. Bahkan masih tersisa dengan rapinya sajak-sajak yang Chairil berikan padanya saat masih duduk di bangku SMP dulu.
     Siang berganti malam, bulan berganti tahun, mnginjak kelas tiga SMA, keduanya saling fokus untuk menghadapi ujian sekolah. Perasaan yang terpendam tidak mempengaruhi keduanya untuk membuktikan siapa yang pantas menjadi juaranya.
***
Ujian telah tiba. Selama empat hari lamanya mereka lalui dengan penuh perjuangan dan tanpa ada komunikasi lagi diaantara keduanya. Dengan mata yang nanar, berpeluh keringat dingin, mereka nantikan hasil kelulusan yang akan mengantarkan mereka pada titik suatu puncak bukit perjalanan selama masa SMA. Semua terjadi begitu cepat, perlahan siswa siswi mulai membuka amplop yang sudah diberikan, termasuk Chairil dan Lia yang tengah semeringah melihat isi amplop tersebut.
NAMA : LIA ANGGARWATI
NIS      : 0001234 543 201

LULUS/TIDAK LULUS
NAMA : CHAIRIL ANWAR
NIS       : 0001234 543 212

LULUS/TIDAK LULUS

Setelah pengumuman kelulusan, maka dirayakanlah perpisahan sekolah dengan acara promnight. Semua sudah memiliki pasangan untuk pergi ke acara tersebut kecuali Lia. Banyak lelaki yang mengajaknya pergi ke acara tersebut, akan tetapi semua ditolaknya. Ia berharap Chairil datang mengajaknya dan walau jika tidak, ia tidak akan pergi ke acara promnight sekolah tersebut sekalipun ia salah satu panitia penyelenggara.
Mempersiapkan perlengkapan untuk acara perpisahan membuat Lia dan kawan-kawan kelelahan sehingga Lia harus pulang kemalaman. Sekolah sudah mulai kosong dan saat ia keluar gerbang, tiba-tiba saja sebuah Jip menghampirinya. Dari dalamnya keluarlah beberapa pria berotot kekar yang hendak menyeret Lia masuk kedalam Jip.
“Heh! Apa-apaan ini? Lepasin saya! Tolong! Tolong!” langsung saja salah satu pria diantaranya membungkam mulut Lia dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius yang lalu pingsan. Tanpa para penjahat itu sadari, ternyata Wisnu, sahabat Chairil melihat kejadian itu dan langsung mencoba menghubunginya setelah beberapa kali terputus.
Chairil sedang asyik main facebook didepan komputernya, tanpa disengaja tangannya mengenai gelas teh yang berada disamping mouse sehingga gelasnya terjatuh dan pecah.
“Sial! Apa yang terjadi? Mengapa perasaanku tiba-tiba berubah menjadi tidak baik seperti ini?” Gumam Chairil. Dalam lamunannya, tiba-tiba ia dikagetkan oleh dering Handphone panggilan dari Wisnu.
“Hallo? Ril, gawat Ril gawat, Cepetan loe datang kesekolah sekarang! Lia diculik!” Ucap Wisnu agak berbisik.
“Loe ngomong yang pasti-pasti aja deh Wis! Salah liat kali loe!” Ucap Chairil tidak yakin.
“Beneran disamber geledek deh kalau gue bohong. Gue enggak bohong! Serius gue! Buruan kesini mumpung masih ada kesempatan ngejar itu mobilnya.” Ujar Wisnu sambil masih mengintai para penjahat yang masih berusaha membawa Lia masuk kedalam Jip.
“Oke, gue kesitu sekarang juga! Loe awasin terus si Lia, dan awas ya loe sampai ngerjain gue Wis!” Tegas Chairil yang langsung mengambil motor yang biasa ia pakai untuk balapan dari bagasi kemudian menarik gasnya sekencang mungkin.
“Ayo Ril, mereka lari kearah sana! Sini biar gue yang bawa motor loe!” kata Wisnu yang sejak tadi mengawasi dari pinggir pagar sekolah. Akhirnya Mereka berdua mengejar mobil Jip yang semakin jauh terlihat. Chairil yang sudah tidak tenang mengetahui gadis yang ia sayangi itu diculik membuat ia melakukan atraksi kecil yang membuat semua orang dipinggiran jalan tercengang kagum dan takut.
“Lelet loe Wis, sini biar gue yang didepan! Loe pindah kebelakang,” perintah Chairil yang membuat keduanya bertukar kendali kendaraan tanpa berhenti terlebih dahulu dengan kecepatan luar biasa. Dengan Kecepatan penuh, Chairil mencoba mengendarai motornya lebih cepat agar dapat membututi Jip yang membawa Lia pergi tanpa permisi. Disebuah rumah  kosong yang sangat sepi jauh dari keramaian, mobil Jip tersebut berhenti. Beberapa penjahat turun dari dalamnya dengan  menyeret Lia masuk kerumah kosong yang sepi itu. Setelah agak lama mengamati, dengan berjalan mengendap-endap Chairil dan Wisnu mendekat melalui sisi depan rumah. melalui lubang disela-sela tembok Chairil mencoba mengintip, dan didalamnya nampak beberapa penjahat yang lain tengah asyik bermain kartu remi disebuah sofa.
     “Ril? loe coba masuk cari Lia lewat pintu belakang ya? Gue akan coba alihkan perhatian ini para penjahat biar loe gampang cari Lia!” Kata Wisnu.
“Gak usah Wis, biar gue aja yang mengalihkan perhatian para penjahat didalam, dan loe cari Lia didalam!” Ujar Chairil yakin.
“Mau cari mati loe Ril? Yakin loe? Beneran enggakpapa? Oke, gue bergerak sekarang.”
“Iya. Enggakpapa Wis, yang penting loe harus selamatin si Lia! buruan sana!” Tegas Chairil kepada sahabatnya itu penuh harapan. Setelahnya, Chairil masuk dengan tiba-tiba dihadapan para penjahat.
     “Eh! Para bajingan tengik, ngapain loe semua ngumpet disini kaya tikus got?” Cela Chairil.
     “Resek! Siapa loe tiba-tiba datang enggak diundang datang kemari? Loe mau cari mati ya kesini?ujar salah satu penjahat yang berkumis tebal.
Gue? Gue adalah malaikat yang akan ambil nyawa kalian semua!Tanpa basa basi lagi, dengan pukulan keras disalah satu penjahat, Chairil memulai perkelahian. “bbbuugg! Bbaaaggg! Bbrrraakkk!Dentangan hentakan Chairil yang menghajar para penjahat.
Wisnu sendiri masih mencari-cari Lia hingga akhirnya ia dapati sebuah ruangan yang nampak gelap tanpa lampu. Karena kecurigaan akhirnya ia memasukinya dan menemukan Lia sedang diikat dan dibungkam dengan kain diatas duduk disebuah kursi. Wisnu langsung melepas kain dan ikatan tersebut, lalu sambil menggendong Lia, Wisnu akhirnya berhasil kabur keluar kemudian menelpon polisi.
     “Bbuugg! Bbaagg!Satu lawan banyak bukan perlawanan yang seimbang untuk Chairil. Sekarang Chairil benar-benar dihajar oleh para penjahat. Darah mulai menganak sungai mengalir dari mulut dan hidungnya. Tangannya dipatahkan dengan sebuah kursi kayu oleh seorang penjahat diantaranya.
Aaarrrggghhh!Teriak Chairil histeris.
Setengah sadar Lia mendengar teriakan itu sepintas, kemudian ia bertanya kepada Wisnu, ”Wisnu? kamu datang dengan siapa? Aku kok seperti mendengar suara Chairil teriak ya barusan Nu?? Atau perasaan aku saja? Kamu dengar gak teriakan tadi? Apa bener Chairil disini?” Wisnu hanya terdiam.
“Ayo jawab Nu? Kamu kok diam aja sih Nu?” tanya Lia memaksa. Wisnu tetap terdiam dan kemudian memberi pesan kepada Chairil bahwa Lia sudah aman dan memberitahunya agar segera keluar.
Iya, Chairil sama aku tadi. Tapi, tapi dia bilang dia mau mengalihkan perhatian itu para penjahat tadi, biar aku mudah mencari kamu. Dia mengorbankan dirinya sendiri untuk selamatin kamu!” Mendengar ucapan Wisnu, Lia pun menangis dan mencoba berontak dari Wisnu dan ingin masuk kembali mencari Chairil. Wisnu berkata, “Jangan masuk Lia, kalau kamu kenapa-kenapa, Chairil bakal marah besar denganku.” Sambil memegang erat tangan Lia yang berontak berderai air mata tanpa daya.
Mati loe! Anak bau kencur juga, coba macem-macem!” Ucap salah seorang penjahat kepada Chairil yang kini sudah terkapar berlumuran darah. Handphonenya berdering menerima sebuah pesan dari Wisnu, dan anehnya ia malah tertawa lepas. Dengan gontai serta berlumuran darah, ia mencoba berdiri, dan dengan paras yang santai lalu ia berkata, Tugas gue sudah selesai...” ujar Chairil memasang senyum masam. Karena menyadari sesuatu, beberapa orang penjahat mencoba menengok keadaan Lia.
“bos! Perempuan itu sudah enggak ada!” Ujar salah seorang penjahat.
“Apa!? Itu cewek yang bisa buat kita kaya entar, yang bisa kita jual ke bos kita nanti! Dasar loe semua! Jagain itu perempuan aja pada enggak bejus! kita sudah ditipu! Pasti ini kerjaan loe kan bocah?” Geram seorang penjahat yang kemudian mengambil sebuah balok kayu lalu menghantamkannya tepat dikepala Chairil.
“Mati loe!” Teriak seorang penjahat mendaratkan pukulannya tepat dikepala Chairil bersamaan suara sirine mobil polisi diluar yang kemudian membuat komplotan penjahat tersebut menjadi panik.
“Angkat tangan semua!” perintah polisi yang langsung menggrebek rumah tersebut. Terlambat kesempatan para penjahat untuk kabur karena rumah sudah dikepung.
Tubuhnya terluka hebat, dari kepalanya semakin deras megalirkan darah kental yang nian membanjiri pijaknya. Akhirnya pun Chairil ambruk tergeletak dilantai bersimpah darah. Lia hanya bisa tercengang melihat apa yang terjadi pada orang yang begitu ia sayangi. Dengan terlunta dan mata yang sembab, ia peluk erat tubuh yang tergeletak bersimpah darah tersebut serambi mewarnai ruangan dengan jerit pekik histeris sebuah tangisan seorang Lia.
***

Kau telah lama berpijak dalam penantianmu,
Suara dan jeritku tak pula kunjung datang,
Mendera,
Menyapa, membelaimu mesra,
Kau seperti waktu yang tidak pernah ingin berhenti,
Terkadang pijak kakimu deras melangkah,
Padahal, aku tahu kau lelah,
Aku tahu pula kau terlunta,
Kau gontai,
Kau lemah dan tertatih
Tapi kau tetap memaksakan diri untuk hati,
Ingin ku genggam erat tangan sesekali dalam sepimu,
Sendirimu tak akan ada lagi bersamaku,
Kini ku peluk erat bayangmu dan jiwamu,
Sungguh tidak akan pernah aku lepas,
Sumpah jiwa dan hati akan abadi menjadi,
Meski harus dipanggil.
Sajak terakhir untuk Chairil.

TAMAT

0 komentar: