Pagi yang
indah, burung mulai bernyanyi merdu menantang fajar menyambut
para siswa disalah satu sekolah SMA ternama di Jakarta. Kumpulnya anak ABG mengisi
keheningan disekolah selama fajar mulai menyongsong hingga lengser.
Sekelibat orang mulai terpanah terpaku melihat seorang gadis yang turun
dari angkot dengan gaya yang dikalangan remaja dapat dikatakan tidak gaul tetapi tidak juga jadul.
Namanya adalah Lia Anggarwati. Lia adalah siswa jurusan IPA. Gadis yang berumur
enam belas tahun ini juga telah banyak menyumbangkan piala untuk sekolahnya
melalui olimpiade yang ia ikuti semenjak awal kelas X. Walaupun gayanya yang bisa
dibilang biasa saja, tetapi dia cukup popular disekolahnya karena kepandaiannya
dalam segala bidang mata pelajaran dan mungkin karena parasnya yang memang
sudah nampak begitu cantik meski tanpa alat kosmetik seperti yang dipakai
teman-temannya yang nampak menor abis, atau mungkin dia tidak memakainya
dikarenakan sifatnya yang benar tidak suka Neko-neko,
karena pada dasarnya Lia adalah anak orang yang dapat dibilang berkecukupan.
Banyak lelaki yang begitu mengagumi Primadona sekolah tersebut, bahkan
seperti pagi ini saat Lia akan memasuki gerbang dengan gaya yang menurut mereka
sendiri sudah paling keren. Tetapi Lia tidak pernah menghiraukannya dan terus akan
berjalan ke perpustakaan sekolah tempat kesukaannya.
Bel berbunyi tanda kelas akan dimulai, Lia bergegas menuju kelasnya yang
berada dilantai atas. Pelajaran baru saja akan dimulai, tiba-tiba kepala
sekolah masuk ke kelasnya dan memperkenalkan siswa baru yang cukup cool dan
dari gayanya, ya bisa dibilang Oklah. “Chairil”, itulah namanya, dan ia
merupakan siswa pindahan dari Jakarta. Setelah perkenalan,
Chairil duduk tepat dibelakang Lia ,karena memang bangku dibelakangnya masih
kosong.
Dijam istirahat siang, sapaan seseorang mengejutkan Lia yang tengah asyik
membaca buku dikantin sekolah. sambil melihat buku yang dipinjam diperpus tadi.
Ternyata itu adalah Chairil. Lalu tanpa basa-basi lagi, keduanya mengobrol sambil
bercanda ria kesana-kesini. Sekejap, orang-orang dikantin tentu saja kaget melihat
mereka berdua yang langsung dapat akrab,karena setahu mereka Lia adalah gadis
yang paling susah didekati cowok, apalagi dengan orang yang baru dikenal. Akan
tetapi, yang lebih mengejutkan bahwa Chairil adalah teman masa kecil Lia dulu
saat SD dan SMP. Semenjak keluarga Lia pindah keluar kota, semenjak itu pula
Lia dan Chairil tidak pernah berkomunikasi lagi. Akhirnya kini bahagia
bagi Chairil dapat bertemu kembali dengan gadis yang ia sukai
semenjak kecil itu.
Hari demi hari terus
berlalu,
semua kenangan saat kecil dulu membuat Chairil merasa semakin dekat
dengan Lia, begitu pun sebaliknya. Bahkan terkadang
keduanya nampak berangkat sekolah bersama,
keperpustakaan bersama, ke kantin dan
pulang sekolah bersama. Chairil yang menyukai Lia tapi tidak memiliki
cukup keberanian
untuk
mengungkapkan perasaannya, karena ia tahu bahwa
perasaannya tidak mungkin terbalas, fikirnya. Apalah daya, ia hanya
dapat memendam perasaan itu, melihat Lia tersenyum saja
pun sudah merupakan keindahan tersendiri bagi dirinya. Tetapi sebenarnya, jauh didalam hati seorang Lia , ia juga
mengharapkan teman semasa kecilnya itu untuk dapat menjadi kekasihnya meski
sempat terbelenggu oleh jarak.
Dihari
yang biasa, diantara keduanya pun juga hanya biasa saja meski tampak ada yang
spesial jika dipandang.
“Kini
aku berjumpa denganya, ya Allah jangan lagi jauhkan
dia dariku.. bukan berarti dengan ada dia aku akan menjauh dariMu tapi dengan
ada dirinya, malah akan membuatku lebih dari baik dan tidak
membuat jauh dariMu. tapi aku tetap berpasrah padaMu”, ucap
Lia bersama sujudnya dihamparan sajadah dengan do’a.
Tanpa ada kompromi, ternyata Chairil juga
mendo’a akan hal yang sama dan sebaliknya begitu. Lalu ia membuat beratus-ratus
puisi untuk Lia dan ia memang sangat menyukai puisi yang ditulis oleh Charil
semenjak kecil. Bahkan masih tersisa dengan rapinya sajak-sajak yang Chairil
berikan padanya saat masih duduk di bangku SMP dulu.
Siang berganti malam, bulan berganti
tahun, mnginjak kelas tiga SMA, keduanya saling fokus untuk
menghadapi ujian sekolah. Perasaan yang terpendam tidak mempengaruhi
keduanya untuk membuktikan siapa yang pantas menjadi juaranya.
***
Ujian
telah tiba. Selama empat hari lamanya mereka lalui dengan penuh
perjuangan dan tanpa ada komunikasi lagi diaantara keduanya. Dengan mata yang
nanar, berpeluh keringat dingin, mereka nantikan hasil kelulusan yang akan
mengantarkan mereka pada titik suatu puncak bukit perjalanan selama masa SMA.
Semua terjadi begitu cepat, perlahan siswa siswi mulai membuka amplop yang
sudah diberikan, termasuk Chairil dan Lia yang tengah semeringah melihat isi
amplop tersebut.
NAMA : LIA ANGGARWATI
NIS : 0001234 543
201
LULUS/TIDAK LULUS
|
NAMA : CHAIRIL ANWAR
NIS : 0001234 543 212
LULUS/TIDAK LULUS
|
Setelah
pengumuman kelulusan, maka dirayakanlah perpisahan sekolah
dengan acara promnight. Semua sudah memiliki pasangan untuk pergi ke acara
tersebut kecuali Lia. Banyak lelaki yang mengajaknya pergi ke
acara tersebut, akan tetapi semua ditolaknya. Ia berharap Chairil datang
mengajaknya
dan walau jika tidak, ia tidak akan pergi ke acara promnight
sekolah tersebut sekalipun ia salah satu panitia penyelenggara.
Mempersiapkan
perlengkapan untuk acara perpisahan membuat Lia dan kawan-kawan kelelahan
sehingga Lia harus pulang kemalaman. Sekolah sudah mulai kosong dan saat ia
keluar gerbang, tiba-tiba saja sebuah Jip menghampirinya.
Dari dalamnya keluarlah beberapa pria berotot
kekar yang hendak menyeret Lia masuk kedalam Jip.
“Heh! Apa-apaan ini? Lepasin saya! Tolong! Tolong!” langsung saja
salah satu pria diantaranya membungkam mulut Lia dengan sebuah
sapu tangan yang sudah diberi obat bius yang lalu pingsan. Tanpa
para penjahat itu sadari, ternyata Wisnu, sahabat Chairil
melihat kejadian itu dan langsung mencoba menghubunginya
setelah beberapa kali terputus.
Chairil
sedang asyik main facebook didepan komputernya, tanpa
disengaja tangannya mengenai gelas teh yang berada disamping mouse sehingga gelasnya
terjatuh dan pecah.
“Sial! Apa yang terjadi? Mengapa perasaanku tiba-tiba berubah menjadi tidak
baik seperti ini?” Gumam Chairil. Dalam lamunannya, tiba-tiba ia dikagetkan
oleh dering Handphone panggilan dari Wisnu.
“Hallo? Ril, gawat Ril
gawat, Cepetan loe datang kesekolah sekarang! Lia
diculik!” Ucap Wisnu agak berbisik.
“Loe
ngomong yang pasti-pasti aja deh Wis! Salah liat
kali loe!” Ucap Chairil tidak yakin.
“Beneran
disamber geledek deh kalau gue bohong. Gue enggak bohong! Serius gue! Buruan kesini
mumpung masih ada kesempatan ngejar itu mobilnya.”
Ujar Wisnu sambil masih mengintai para penjahat yang masih berusaha membawa Lia
masuk kedalam Jip.
“Oke, gue kesitu
sekarang juga! Loe awasin terus si Lia, dan awas ya loe
sampai ngerjain gue Wis!” Tegas
Chairil yang langsung mengambil motor yang biasa ia pakai untuk
balapan dari bagasi kemudian menarik gasnya sekencang mungkin.
“Ayo
Ril,
mereka lari kearah sana! Sini biar gue yang bawa motor loe!” kata Wisnu
yang sejak tadi mengawasi dari pinggir pagar sekolah. Akhirnya
Mereka
berdua mengejar mobil Jip yang semakin jauh terlihat.
Chairil yang sudah tidak tenang mengetahui
gadis
yang ia sayangi itu diculik membuat ia melakukan atraksi kecil
yang membuat semua orang dipinggiran jalan tercengang kagum dan takut.
“Lelet
loe Wis, sini biar gue yang
didepan! Loe pindah kebelakang,” perintah Chairil
yang membuat keduanya bertukar kendali kendaraan tanpa berhenti terlebih dahulu
dengan kecepatan luar biasa. Dengan Kecepatan penuh, Chairil mencoba
mengendarai
motornya lebih cepat agar dapat membututi Jip
yang membawa Lia pergi tanpa permisi. Disebuah
rumah kosong yang sangat
sepi
jauh dari keramaian, mobil Jip tersebut berhenti. Beberapa
penjahat turun
dari dalamnya dengan menyeret Lia masuk
kerumah kosong yang sepi itu. Setelah agak lama
mengamati, dengan berjalan mengendap-endap Chairil dan Wisnu
mendekat melalui
sisi depan rumah. melalui lubang disela-sela tembok Chairil
mencoba mengintip,
dan didalamnya nampak beberapa penjahat
yang lain tengah asyik bermain kartu remi disebuah sofa.
“Ril? loe coba masuk
cari Lia lewat
pintu belakang ya? Gue akan coba alihkan
perhatian ini para penjahat biar loe gampang cari Lia!” Kata
Wisnu.
“Gak usah Wis, biar gue aja yang mengalihkan perhatian para penjahat
didalam, dan loe cari Lia didalam!” Ujar Chairil yakin.
“Mau
cari mati loe Ril? Yakin loe? Beneran enggakpapa? Oke, gue bergerak sekarang.”
“Iya.
Enggakpapa Wis, yang penting loe harus selamatin si Lia! buruan
sana!” Tegas Chairil kepada sahabatnya itu penuh harapan. Setelahnya,
Chairil masuk dengan tiba-tiba dihadapan para penjahat.
“Eh! Para bajingan tengik,
ngapain loe semua ngumpet disini kaya tikus got?” Cela Chairil.
“Resek! Siapa loe tiba-tiba
datang
enggak diundang datang kemari? Loe mau cari mati ya
kesini?” ujar salah satu penjahat yang
berkumis tebal.
“Gue?
Gue adalah
malaikat yang akan ambil nyawa kalian
semua!” Tanpa basa
basi lagi, dengan pukulan keras disalah satu penjahat, Chairil
memulai perkelahian. “bbbuugg! Bbaaaggg! Bbrrraakkk!” Dentangan
hentakan Chairil
yang
menghajar para penjahat.
Wisnu sendiri masih mencari-cari Lia hingga akhirnya ia dapati sebuah
ruangan yang nampak gelap tanpa lampu. Karena kecurigaan akhirnya ia
memasukinya dan menemukan Lia sedang diikat dan dibungkam dengan kain diatas
duduk disebuah kursi. Wisnu langsung melepas kain dan ikatan
tersebut,
lalu
sambil menggendong Lia, Wisnu akhirnya berhasil kabur keluar kemudian menelpon
polisi.
“Bbuugg! Bbaagg!” Satu lawan banyak bukan perlawanan yang
seimbang untuk Chairil. Sekarang Chairil
benar-benar dihajar oleh para penjahat. Darah mulai
menganak sungai mengalir dari mulut dan hidungnya. Tangannya dipatahkan
dengan sebuah kursi kayu oleh seorang penjahat diantaranya.
“Aaarrrggghhh!” Teriak
Chairil histeris.
Setengah
sadar Lia mendengar teriakan itu sepintas, kemudian ia bertanya kepada Wisnu, ”Wisnu?
kamu
datang dengan siapa? Aku kok seperti mendengar suara Chairil
teriak ya barusan Nu?? Atau perasaan aku saja? Kamu dengar gak
teriakan tadi? Apa bener Chairil disini?” Wisnu hanya terdiam.
“Ayo
jawab Nu? Kamu kok diam aja sih
Nu?”
tanya Lia memaksa. Wisnu tetap terdiam dan kemudian memberi pesan kepada Chairil
bahwa Lia sudah aman dan memberitahunya agar segera keluar.
“Iya, Chairil sama aku tadi. Tapi,
tapi
dia bilang dia mau mengalihkan perhatian itu para penjahat
tadi,
biar aku
mudah mencari
kamu. Dia mengorbankan dirinya
sendiri untuk selamatin kamu!” Mendengar ucapan
Wisnu,
Lia pun menangis dan mencoba berontak
dari Wisnu dan ingin masuk kembali mencari Chairil. Wisnu
berkata, “Jangan masuk Lia, kalau kamu kenapa-kenapa, Chairil bakal marah besar
denganku.” Sambil memegang erat tangan Lia yang berontak berderai air mata
tanpa daya.
“Mati loe! Anak
bau kencur juga, coba macem-macem!” Ucap salah seorang
penjahat kepada Chairil yang kini sudah terkapar berlumuran darah. Handphonenya
berdering
menerima sebuah pesan dari Wisnu, dan anehnya ia malah tertawa lepas. Dengan
gontai serta berlumuran
darah, ia mencoba berdiri, dan dengan paras yang santai
lalu ia berkata, “Tugas gue sudah
selesai...”
ujar Chairil memasang senyum masam. Karena menyadari sesuatu, beberapa orang
penjahat
mencoba menengok keadaan Lia.
“bos!
Perempuan
itu sudah enggak ada!” Ujar
salah seorang penjahat.
“Apa!? Itu cewek yang bisa buat kita kaya entar, yang bisa kita jual ke bos
kita nanti! Dasar loe semua! Jagain itu perempuan aja pada enggak bejus! kita sudah
ditipu! Pasti ini kerjaan loe kan bocah?” Geram seorang penjahat yang kemudian
mengambil sebuah balok kayu lalu menghantamkannya tepat dikepala Chairil.
“Mati loe!” Teriak seorang penjahat mendaratkan pukulannya tepat dikepala
Chairil bersamaan suara sirine mobil polisi diluar yang kemudian membuat komplotan
penjahat tersebut menjadi panik.
“Angkat
tangan semua!” perintah polisi yang langsung menggrebek rumah tersebut. Terlambat
kesempatan para penjahat untuk kabur karena rumah sudah dikepung.
Tubuhnya terluka hebat, dari kepalanya semakin deras megalirkan darah
kental yang nian membanjiri pijaknya. Akhirnya pun Chairil ambruk tergeletak
dilantai bersimpah darah. Lia hanya bisa tercengang melihat apa yang terjadi
pada orang yang begitu ia sayangi. Dengan terlunta dan mata yang sembab, ia
peluk erat tubuh yang tergeletak bersimpah darah tersebut serambi mewarnai
ruangan dengan jerit pekik histeris sebuah tangisan seorang Lia.
***
Kau
telah lama berpijak dalam penantianmu,
Suara
dan jeritku tak pula kunjung datang,
Mendera,
Menyapa,
membelaimu mesra,
Kau
seperti waktu yang tidak pernah ingin berhenti,
Terkadang
pijak kakimu deras melangkah,
Padahal,
aku tahu kau lelah,
Aku
tahu pula kau terlunta,
Kau
gontai,
Kau
lemah dan tertatih
Tapi
kau tetap memaksakan diri untuk hati,
Ingin
ku genggam erat tangan sesekali dalam sepimu,
Sendirimu
tak akan ada lagi bersamaku,
Kini
ku peluk erat bayangmu dan jiwamu,
Sungguh
tidak akan pernah aku lepas,
Sumpah
jiwa dan hati akan abadi menjadi,
Meski
harus dipanggil.
Sajak
terakhir untuk Chairil.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar