![]() | ||
| LOVE |
seorang pemuda nampak sedang memandangi batu nisan yang
ada didepannya dengan Perasaan yang sangat terasa sedih. Dibawah pohon beringin
yang sejuk ia sandarkan kepalanya dibatu nisan itu dan menarik tangannya seakan
untuk memeluk sesuatu. Seketika pemuda itu menangis merdu, menjatuhkan
butiran-butiran air mata kepermukaan bumi bersama semilir hembusan angin
diterik matahari yang membuat suasana makin syahdu karena kini bumi, langit,
dan angin ikut menangis seperti gundah yang dirasakan pemuda tersebut.
Lalu ia
usap air matanya dengan selembar sapu tangan merah muda yang sudah nampak
kucal. Melepaskan tasnya yang sudah terasa sangat membebani pundaknya dan
kemudian meletakannya disamping kakinya sambil tetap menangis.
Tapi
siapakah pemuda itu? Mengapa ia menangis disamping batu nisan tersebut? Dan
siapakah yang berada dibawah batu nisan itu? mengapa ia sampai menangis?
Ditangisnya itu nampak iya sedang berbicara tersedu lirih . . .
***
Dari luar kaca toko mainan, Vivi seorang
gadis remaja memandangi boneka yang diletakan didalam toko. Maklum jaman
sekarang anak-anak suka sekali dengan yang namanya boneka. Jadi sengaja pemilik
toko memajang boneka-boneka ditokonya ketimbang mainan yang lain. Apalagi para
anak perempuan ataupun gadis remaja, mereka sering kali terobsesi dengan mainan
yang satu ini. “Barbie” . . . ya boneka Barbie lah yang menjadi kegemaran para
anak gadis sekarang dan yang dipandangi Vivi sejak tadi.
“
Hummm . . . matamu begitu indah,
kulitmu, rambutmu, semua aku suka . . . bahkan kamu pantas untuk jadi seorang
putri yang begitu cantik jelita . . . kapan yah kita bisa main bareng?” gumam
Vivi dalam hatinya sambil melamun sampai akhirnya suara Ara membangunkannya
dari khayalnya.
“Wooyyyy!!!
Ngapain sih kamu dari tadi melamun terus Vi??? Wahh aku tau deh kayaknya kamu
mikirin apa . . . lagi mikirin cowok ya???” ucap Ara sambil tertawa mengejek
Vivi.
“ Yeee
ngmong apa sih kamu Ra.” memukul lengan Ara dengan wajah merengut.
“ Hehe, iya
maaf . . . udah ahh yuk kita jalan lagi! Soalnya dagangan belum laku banyak
nih, mana udah mau sore entar kita telat lagi kasih setoran sama Bos, bisa kena
amuk entar.” kata Ara.
“ Oohh
astaga . . . iya Ra ayok . . .” balas Vivi dengan mimik kaget lalu menoleh lagi
ke boneka Barbie yang dipajang didalam toko yang kemudian ia kembali bergumam
dalam hatinya.
“ Tenang ya
Barbie aku pasti bisa beli kamu kok, pokoknya aku akan kerja lebih keras biar
bisa beli kamu . . . .” semangat Vivi
membara lalu kembali berjalan menjajakan dagangannya, Karena Vivi adalah seorang
tukang asongan. Orang tuanya sudah lama meninggal semenjak ia kecil. Vivi
sendiri sekolah SMA tapi tidak sampai lulus hingga akhirnya ia keluar karena
tidak sanggup membayar uang sekolah. Paras Vivi memang cantik dan manis hanya
saja kurang terawat karena pada dasarnya Vivi memang tidak mampu untuk membeli
peralatan kosmetik yang mahal itu.
Hari sudah
mulai petang, seharian mengais rejeki, Vivi pun pulang ke rumah bersama Ara . .
. sesampai dirumah Vivi, mereka berdua duduk di depan rumah ara sambil
beristirahat dan memandang matahari tenggelam karena kebetulan rumah Vivi
berada di tepi pantai. Walau rumahnya sangat sederhana hanya seperti gubuk tua
tapi ia sangat merasa nyaman dan rumah itu memang begitu terasa sejuk.
Malam pun
tiba. Setelah selesai mandi, Vivi langsung menghitung uang yang ia dapat dari hasil
keringatnya seharian tadi.
“ Seribu,
dua ribu, lima ribu, humm lumayan hari ini dapat tiga puluh ribu. Aku masukan
ke tabunganku sepuluh ribu dan buat keperluanku duapuluh ribu.” Lalu ia
mengambil lagi uang yang ia simpan dibawah tikar tempat tidurnya.
“ Wah
tabunganku ada empat puluh ribu. Besok aku harus lebih kerja keras untuk
ngumpulin uang buat beli boneka Barbie. Tapi kalau aku Cuma kerja sama pak udin
jadi tukang asongan kayaknya bakal lama aku ngumpulin uang karena hasilnya
masih kurang. Iya . . . aku harus cari kerja tambahan lagi besok.” Ucap Vivi
pada dirinya sendiri lalu meletakan kembali uangnya dibawah tikar lalu
menindihinya dengan bantal. Saat hendak meletakan kepalanya diatas bantal,
tiba-tiba . . .
“ Vi!!!
Vivi!! Kamu ada didalamkan?? Bapak bawa ikan banyak . . . dan Amak minta kita
semua makan malam bareng . . . Vi!! Vivi!!” Ucap Jujung sambil mengetok pintu
rumah Vivi. Jujung adalah sahabat Vivi semenjak mereka masih kecil. Jujung juga
berasal dari keluarga yang sederhana tapi kedua orang tuanya masih ada. Dan
bapaknya adalah seorang nelayan yang setiap hari pergi kelaut untuk menjala
ikan.
“Jangan
teriak - teriak Jung. . . sudah malam... Yang benar? Apakah kita akan makan
ikan bakar lagi, ye ye ye itu makanan kesukaanku. “ girang Vivi sambil
melompat-lompat kecil.
“ Huuuu
kalau makan aja kamu cepat tanggap . . . iya beneran lah emang pernah aku
bohong sama kamu?”
“ Hehe
soalnya aku sudah lapar banget jung memang . . . ayok jung cepetan kita datang
sama amak!”
“ Iya .
. Iya . . . Ayok.” Lalu Vivi menarik
lengan baju jujung.
Vivi sudah dianggap anak kandung sendiri
oleh kedua orang tua Jujung. Sehingga Vivi tidak pernah sungkan untuk diajak
makan malam oleh Jujung malahan senang sekali.
Ditepi
pantai . . . mereka semua makan malam ditepi pantai. Sangat begitu indah dengan
menu ikan bakar, makan malam sambil memandang ombak lautan dan pantulan sinar
rembulan menjadikan suasana sangat indah dan romantis bersama orang-orang
terdekat. Kadang kala Jujung memandang Vivi yang asyik makan ikan bakar bersama
bapak dan amak. Ia sadari bahwa sudah lama ia jatuh hati kepada Vivi. Dan jujung
sendiri tau bahwa perasaannya terbalas karena terkadang juga pandangan dan
senyuman Vivi memiliki arti tersendiri bagi Jujung. Tapi disisi lain ia melihat
banyak kesedihan yang nampak dari paras Vivi yang membuat ia juga tampak
gelisah. Ia selalu mencari sesuatu yang
difikirkan gadis pujaannya itu namun tetap saja tidak terbongkar. Dan malam ini
sangat indah terasa sama seperti malam-malam sebelumnya saat keduanya duduk
berhadapan untuk menikmati makan malam bersama kedua orang tua jujung.
***
Makan malam usai. Vivi kembali kerumahnya
yang hanya bersebelahan dengan rumah jujung. Lalu merebahkan dirinya diatas
tikar yang nampak lusuh. Dan sambil memejamkan mata, ia berfikir apa yang
terjadi besok dan ia selalu berdo’a agar semoga besok akan menjadi hari yang
lebih baik dari hari ini. Lalu mulailah ia merajut mimpi - mimpi indahnya.
Sinar
matahari mulai menembus celah dinding menembus kelopak mata Vivi. Lalu ia pun
terbangun dari mimpinya.
Dengan mata sayup Vivi membuka pintu
serambi berkata “Iya Ra jangan teriak-teriak kenapa sih . . . Aku mandi
sebentar ya . . .” Dengan wajah merengut Ara duduk menunggu Vivi mandi. Selesai
itu, pasangan sahabat tersebut kembali bekerja untuk mengumpulkan uang. Menjadi
tukang asongan merupakan pekerjaan yang berat bagi perempuan umumnya, tapi
tidak apa-apa yang penting kan halal. Setelah kembali menjajakan dagangan, Vivi
dan Ara beristirahat didepan toko, Vivi memandang kedalam dan melihat boneka
Barbie yang masih terpajang rapi belum ada yang membeli.
“ Syukurlah
bonekanya belum terjual, aku masih ada kesempatan untuk mendapatkannya. . .”
gumam Vivi dalam hati.
“ Ehh!!
Yeee malah ngelamun! Humm kenapa sih Vi kamu sering ngelamun pas kita istirahat
disini? Jangan-jangan toko ini angker mungkin yaa . . “ ucap Ara.
“ Parno
kamu Ra . . . aku mau kasih tau sesuatu sama kamu Ra. Kamu lihat kan boneka
Barbie yang dipajang itu Ra?? Aku pengen banget beli boneka itu Ra. Makanya aku
mau kerja keras Ra, terus nanti uangnya aku belikan Boneka Barbie itu deh . . .
“ Ujar Vivi kepada sahabatnya tersebut.
“ Ohh jadi
karena boneka itu kamu melamun, iya bagus banget . . . okee pokoknya aku akan dukung kamu
Vi, nanti aku bantu deh cari uang buat belinya . . . okeyy?? Dah sekarang
gimana kalau kita jalan lagi biar dagangannya cepat habis.?” Kata Ara sambil
memberi semangat kepada Vivi.
“ Makasih
ya Ra . . kamu memang sahabat aku yang paling baik. Ayok . . .!!! “ setelah itu keduanya kembali
berkerja.
***
Sudah pukul
4 sore . . . sudah waktunya Vivi dan Ara pulang. Hari ini lumayan uang yang
didapat Vivi dan Ara karena semua dangangan habis kecuali beberapa bungkus
rokok. Tapi Vivi tidak langsung kembali kerumah. Bahkan ia meminta agar Ara
pulang duluan dan tidak mengkhawatirkannya. Vivi berpikir bagaimana caranya
untuk mendapatkan uang lebih. Dan akhirnya ia memutuskan untuk datang kerumah
Pak Jon, Seorang pedagang terompet dan mainan anak-anak. Tapi ia sudah lama
tidak berdagang. Hanya menitipkan dagangannya kepada yang mau menjajakan.
Kesempatan bagus untuk Vivi.
“ Udah jam
segini Vivi kemana yah kok dia belum juga
pulang . . .??” Gumam dalam hati Jujung yang makin
khawatir kepada Vivi sambil memandang jam dirumahnya yang sudah menunjukan
pukul 8 malam.
Malam yang
mulai sunyi, hanya ada suara ombak, tidak tersadar Jujung telah tertidur
beberapa saat dikamarnya yang lalu terbangun oleh suara pintu dirumah sebelah.
“ Mungkinkah
Vivi sudah datang? “ dalam benaknya. Ia pun berlari keluar sambil membawa ikan
bakar dan sepiring nasi yang sudah agak dingin yang memang sudah disiapkan dari
tadi sore olehnya. Lalu perlahan ia menghampiri Vivi yang nampak lesu dan
pucat. Spontan Jujung langsung kaget melihat keadaan Vivi. Bahkan Vivi tidak
berkata-kata saat Jujung mengantarkanya makanan, Makanan kesukaan Vivi, ikan
bakar. Vivi hanya tersenyum menapakan lesung indah di pipinya membuatnya nampak
baik-baik saja.
“
Vi kok kamu pucat? Kamu kenapa? Atau kamu sakit? Itu ikan bakarnya dimakan!”
“
Aku baik aja kok, oya aku mau kasih kamu sesuatu...”
“
Apa?” Penasaran Jujung yang lalu Vivi mengeluarkan selembar sapu tangan
berwarna merah muda dari sakunya lalu duduk menyantap ikan bakar yang dibawakan
jujung.
“Ddeerrr
. .” tiba-tiba Jantungnya meledak, perasaan yang belum pernah ia rasakan
saat bersama Vivi. Semacam perasaan akan takut. Hatinya bergemuruh dan heran
kenapa gadis pujaannya pulang begitu malam. Hatinya berdesir dan kakinya kaku, Sebenarnya
Jujung berat melangkahkan kakinya kembali pulang ke rumah meninggalkan Vivi
seorang diri... Hatinya bersenandung . . . .
“ Aku ingin
sedikit lebih lama disini . . . “ ucapnya sambil memandang wajah Vivi yang
begitu manis baginya walau dikala mereka bercanda Ia selalu mengejek Vivi Si
Nenek Kempong, dan begitu juga dengan Vivi yang mengejek Jujung Si Kakek Peot.
Sering kali Vivi marah dan melapor kepada Ibu Jujung membuat sang Ibu menjitak
kepala si Jujung. Tapi semua itulah yang membuat ikatan dikeduanya.
“ Ya aku
ingin . . . .” batinnya dalam hati seraya menundukan kepala.
“ A, aku
be, begitu Yaa . . . aku ingin lebih lama bersamamu Vi . . . belum sempat ku
utarakan kepadamu apa yang selama ini aku rasakan Vi. . . ka, kalau sebenarnya
mungkin aku begitu sangat menyayangimu . . . padahal seharusnya sekarang kamu
ikut dengan aku ke denpasar dan mencari kehidupan yang lebih baik nan bahagia
karena aku ingin sekali membuat kamu bahagia Vi . . .”
Benar!!! Laki - laki dimakam itu tak
lain dan tak bukan adalah Jujung .
Siang itu, Sesudah malam saat jujung
melihat vivi makan ikan bakar untuk yang terakhir kalinya, Vivi mengalami kecelakaan.
Tepat didepan toko boneka Barbie itu
berdiri ia melihat sangat banyak sekali boneka Barbie yang dipajang disisi kaca
toko tersebut, perlahan ia berjalan dengan berat tanpa memperhatikan kiri kanan
jalan, tiba-tiba dunia berputar dengan kencang, badannya roboh tak tersadarkan
dan dari arah kiri melesat Bus dengan kecepatan tinggi dan menindas kepala Vivi
hingga akhirnya Vivi tewas ditempat dengan keadaan yang mengenaskan.
“Setiap saat berada dimakammu, membuat
aku bisa lebih tenang dan tegar Vi, . . aku sudah belajar banyak dari dirimu
andai saja aku bisa . . . menukar
tempatmu pasti akan aku lakukan.” tangis Jujung semakin menjadi.
“Oya, aku bawakan sesuatu yang pasti
kamu suka deh Vi,” Dikeluarkannya dua Boneka Barbie yang selama ini dinginkan
gadis pujaannya itu.
“gimana kamu suka kan? Ternyata selama
ini kamu menginginkan ini ya? Aku tau dari Ara dan dia cerita banyak tentang
ini, tapi kenapa kamu tidak pernah bilang ke aku Vi?? :’( lain kali kita makan
ikan bakar lagi ya Vi? Kamu mau kan? Dan Boneka ini yang akan temani kamu sekarang Vi,
karena aku berniat akan ke denpasar hari ini juga. . . dan setidaknya kamu bisa
tenang ya dialam sana sekarang, karena tidak ada lagi kakek peot kayak aku yang
ganggu kamu . . .” sambil tersenyum dan mencium batu nisan Vivi.
“ Semoga kita bisa ketemu lagi ya Vi . .
?” sekali lagi jujung mencium batu nisan Vivi itu lalu ia pun pergi
meninggalkan Vivi didalam makam itu seorang diri untuk selamanya, karena
setelah dari makam dihari itu, ia mengalami kecelakaan dan tewas ditempat serta
dengan cara yang sama yang dialami oleh Vivi... Vivi is My Barbie.


0 komentar:
Posting Komentar