Kamis, 20 Juni 2013

My Girl is My Barbie

07.28

Share it Please






LOVE
seorang pemuda nampak sedang memandangi batu nisan yang ada didepannya dengan Perasaan yang sangat terasa sedih. Dibawah pohon beringin yang sejuk ia sandarkan kepalanya dibatu nisan itu dan menarik tangannya seakan untuk memeluk sesuatu. Seketika pemuda itu menangis merdu, menjatuhkan butiran-butiran air mata kepermukaan bumi bersama semilir hembusan angin diterik matahari yang membuat suasana makin syahdu karena kini bumi, langit, dan angin ikut menangis seperti gundah yang dirasakan pemuda tersebut.
      Lalu ia usap air matanya dengan selembar sapu tangan merah muda yang sudah nampak kucal. Melepaskan tasnya yang sudah terasa sangat membebani pundaknya dan kemudian meletakannya disamping kakinya sambil tetap menangis.
      Tapi siapakah pemuda itu? Mengapa ia menangis disamping batu nisan tersebut? Dan siapakah yang berada dibawah batu nisan itu? mengapa ia sampai menangis? Ditangisnya itu nampak iya sedang berbicara tersedu lirih . . .

***

Dari luar kaca toko mainan, Vivi seorang gadis remaja memandangi boneka yang diletakan didalam toko. Maklum jaman sekarang anak-anak suka sekali dengan yang namanya boneka. Jadi sengaja pemilik toko memajang boneka-boneka ditokonya ketimbang mainan yang lain. Apalagi para anak perempuan ataupun gadis remaja, mereka sering kali terobsesi dengan mainan yang satu ini. “Barbie” . . . ya boneka Barbie lah yang menjadi kegemaran para anak gadis sekarang dan yang dipandangi Vivi sejak tadi.
      “ Hummm  . . . matamu begitu indah, kulitmu, rambutmu, semua aku suka . . . bahkan kamu pantas untuk jadi seorang putri yang begitu cantik jelita . . . kapan yah kita bisa main bareng?” gumam Vivi dalam hatinya sambil melamun sampai akhirnya suara Ara membangunkannya dari khayalnya.
      “Wooyyyy!!! Ngapain sih kamu dari tadi melamun terus Vi??? Wahh aku tau deh kayaknya kamu mikirin apa . . . lagi mikirin cowok ya???” ucap Ara sambil tertawa mengejek Vivi.
      “ Yeee ngmong apa sih kamu Ra.” memukul lengan Ara dengan wajah merengut.
      “ Hehe, iya maaf . . . udah ahh yuk kita jalan lagi! Soalnya dagangan belum laku banyak nih, mana udah mau sore entar kita telat lagi kasih setoran sama Bos, bisa kena amuk entar.” kata Ara.
      “ Oohh astaga . . . iya Ra ayok . . .” balas Vivi dengan mimik kaget lalu menoleh lagi ke boneka Barbie yang dipajang didalam toko yang kemudian ia kembali bergumam dalam hatinya.
      “ Tenang ya Barbie aku pasti bisa beli kamu kok, pokoknya aku akan kerja lebih keras biar bisa beli kamu . . . .”  semangat Vivi membara lalu kembali berjalan menjajakan dagangannya, Karena Vivi adalah seorang tukang asongan. Orang tuanya sudah lama meninggal semenjak ia kecil. Vivi sendiri sekolah SMA tapi tidak sampai lulus hingga akhirnya ia keluar karena tidak sanggup membayar uang sekolah. Paras Vivi memang cantik dan manis hanya saja kurang terawat karena pada dasarnya Vivi memang tidak mampu untuk membeli peralatan kosmetik yang mahal itu.
      Hari sudah mulai petang, seharian mengais rejeki, Vivi pun pulang ke rumah bersama Ara . . . sesampai dirumah Vivi, mereka berdua duduk di depan rumah ara sambil beristirahat dan memandang matahari tenggelam karena kebetulan rumah Vivi berada di tepi pantai. Walau rumahnya sangat sederhana hanya seperti gubuk tua tapi ia sangat merasa nyaman dan rumah itu memang begitu terasa sejuk.
      Malam pun tiba. Setelah selesai mandi, Vivi langsung menghitung uang yang ia dapat dari hasil keringatnya seharian tadi.
      “ Seribu, dua ribu, lima ribu, humm lumayan hari ini dapat tiga puluh ribu. Aku masukan ke tabunganku sepuluh ribu dan buat keperluanku duapuluh ribu.” Lalu ia mengambil lagi uang yang ia simpan dibawah tikar tempat tidurnya.
      “ Wah tabunganku ada empat puluh ribu. Besok aku harus lebih kerja keras untuk ngumpulin uang buat beli boneka Barbie. Tapi kalau aku Cuma kerja sama pak udin jadi tukang asongan kayaknya bakal lama aku ngumpulin uang karena hasilnya masih kurang. Iya . . . aku harus cari kerja tambahan lagi besok.” Ucap Vivi pada dirinya sendiri lalu meletakan kembali uangnya dibawah tikar lalu menindihinya dengan bantal. Saat hendak meletakan kepalanya diatas bantal, tiba-tiba . . .
      “ Vi!!! Vivi!! Kamu ada didalamkan?? Bapak bawa ikan banyak . . . dan Amak minta kita semua makan malam bareng . . . Vi!! Vivi!!” Ucap Jujung sambil mengetok pintu rumah Vivi. Jujung adalah sahabat Vivi semenjak mereka masih kecil. Jujung juga berasal dari keluarga yang sederhana tapi kedua orang tuanya masih ada. Dan bapaknya adalah seorang nelayan yang setiap hari pergi kelaut untuk menjala ikan.
      “Jangan teriak - teriak Jung. . . sudah malam... Yang benar? Apakah kita akan makan ikan bakar lagi, ye ye ye itu makanan kesukaanku. “ girang Vivi sambil melompat-lompat kecil.
      “ Huuuu kalau makan aja kamu cepat tanggap . . . iya beneran lah emang pernah aku bohong sama kamu?”
      “ Hehe soalnya aku sudah lapar banget jung memang . . . ayok jung cepetan kita datang sama amak!”
      “ Iya . .  Iya . . . Ayok.” Lalu Vivi menarik lengan baju jujung.
Vivi sudah dianggap anak kandung sendiri oleh kedua orang tua Jujung. Sehingga Vivi tidak pernah sungkan untuk diajak makan malam oleh Jujung malahan senang sekali.
      Ditepi pantai . . . mereka semua makan malam ditepi pantai. Sangat begitu indah dengan menu ikan bakar, makan malam sambil memandang ombak lautan dan pantulan sinar rembulan menjadikan suasana sangat indah dan romantis bersama orang-orang terdekat. Kadang kala Jujung memandang Vivi yang asyik makan ikan bakar bersama bapak dan amak. Ia sadari bahwa sudah lama ia jatuh hati kepada Vivi. Dan jujung sendiri tau bahwa perasaannya terbalas karena terkadang juga pandangan dan senyuman Vivi memiliki arti tersendiri bagi Jujung. Tapi disisi lain ia melihat banyak kesedihan yang nampak dari paras Vivi yang membuat ia juga tampak gelisah. Ia selalu  mencari sesuatu yang difikirkan gadis pujaannya itu namun tetap saja tidak terbongkar. Dan malam ini sangat indah terasa sama seperti malam-malam sebelumnya saat keduanya duduk berhadapan untuk menikmati makan malam bersama kedua orang tua jujung.
     
***

Makan malam usai. Vivi kembali kerumahnya yang hanya bersebelahan dengan rumah jujung. Lalu merebahkan dirinya diatas tikar yang nampak lusuh. Dan sambil memejamkan mata, ia berfikir apa yang terjadi besok dan ia selalu berdo’a agar semoga besok akan menjadi hari yang lebih baik dari hari ini. Lalu mulailah ia merajut mimpi - mimpi indahnya.
      Sinar matahari mulai menembus celah dinding menembus kelopak mata Vivi. Lalu ia pun terbangun dari mimpinya.
      “ Vi!!! Vivi!!! Ayok! Waktunya kita tempat pak Udin nih!“ dari luar terdengar suara Ara berteriak memanggil Vivi sambil mengetok pintu.
Dengan mata sayup Vivi membuka pintu serambi berkata “Iya Ra jangan teriak-teriak kenapa sih . . . Aku mandi sebentar ya . . .” Dengan wajah merengut Ara duduk menunggu Vivi mandi. Selesai itu, pasangan sahabat tersebut kembali bekerja untuk mengumpulkan uang. Menjadi tukang asongan merupakan pekerjaan yang berat bagi perempuan umumnya, tapi tidak apa-apa yang penting kan halal. Setelah kembali menjajakan dagangan, Vivi dan Ara beristirahat didepan toko, Vivi memandang kedalam dan melihat boneka Barbie yang masih terpajang rapi belum ada yang membeli.
      “ Syukurlah bonekanya belum terjual, aku masih ada kesempatan untuk mendapatkannya. . .” gumam Vivi dalam hati.
      “ Ehh!! Yeee malah ngelamun! Humm kenapa sih Vi kamu sering ngelamun pas kita istirahat disini? Jangan-jangan toko ini angker mungkin yaa . . “ ucap Ara.
      “ Parno kamu Ra . . . aku mau kasih tau sesuatu sama kamu Ra. Kamu lihat kan boneka Barbie yang dipajang itu Ra?? Aku pengen banget beli boneka itu Ra. Makanya aku mau kerja keras Ra, terus nanti uangnya aku belikan Boneka Barbie itu deh . . . “ Ujar Vivi kepada sahabatnya tersebut.
      “ Ohh jadi karena boneka itu kamu melamun, iya bagus   banget . . . okee pokoknya aku akan dukung kamu Vi, nanti aku bantu deh cari uang buat belinya . . . okeyy?? Dah sekarang gimana kalau kita jalan lagi biar dagangannya cepat habis.?” Kata Ara sambil memberi semangat kepada Vivi.
      “ Makasih ya Ra . . kamu memang sahabat aku yang paling baik. Ayok  . . .!!! “ setelah itu keduanya kembali berkerja.

***

      Sudah pukul 4 sore . . . sudah waktunya Vivi dan Ara pulang. Hari ini lumayan uang yang didapat Vivi dan Ara karena semua dangangan habis kecuali beberapa bungkus rokok. Tapi Vivi tidak langsung kembali kerumah. Bahkan ia meminta agar Ara pulang duluan dan tidak mengkhawatirkannya. Vivi berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang lebih. Dan akhirnya ia memutuskan untuk datang kerumah Pak Jon, Seorang pedagang terompet dan mainan anak-anak. Tapi ia sudah lama tidak berdagang. Hanya menitipkan dagangannya kepada yang mau menjajakan. Kesempatan bagus untuk Vivi.
      “ Udah jam segini Vivi kemana yah kok dia belum juga      pulang  . . .??” Gumam dalam hati Jujung yang makin khawatir kepada Vivi sambil memandang jam dirumahnya yang sudah menunjukan pukul 8 malam.
      Malam yang mulai sunyi, hanya ada suara ombak, tidak tersadar Jujung telah tertidur beberapa saat dikamarnya yang lalu terbangun oleh suara pintu dirumah sebelah.
      “ Mungkinkah Vivi sudah datang? “ dalam benaknya. Ia pun berlari keluar sambil membawa ikan bakar dan sepiring nasi yang sudah agak dingin yang memang sudah disiapkan dari tadi sore olehnya. Lalu perlahan ia menghampiri Vivi yang nampak lesu dan pucat. Spontan Jujung langsung kaget melihat keadaan Vivi. Bahkan Vivi tidak berkata-kata saat Jujung mengantarkanya makanan, Makanan kesukaan Vivi, ikan bakar. Vivi hanya tersenyum menapakan lesung indah di pipinya membuatnya nampak baik-baik saja.
 “ Vi kok kamu pucat? Kamu kenapa? Atau kamu sakit? Itu ikan bakarnya dimakan!”
 “ Aku baik aja kok, oya aku mau kasih kamu sesuatu...”
 “ Apa?” Penasaran Jujung yang lalu Vivi mengeluarkan selembar sapu tangan berwarna merah muda dari sakunya lalu duduk menyantap ikan bakar yang dibawakan jujung.
“Ddeerrr  . .” tiba-tiba Jantungnya meledak, perasaan yang belum pernah ia rasakan saat bersama Vivi. Semacam perasaan akan takut. Hatinya bergemuruh dan heran kenapa gadis pujaannya pulang begitu malam. Hatinya berdesir dan kakinya kaku, Sebenarnya Jujung berat melangkahkan kakinya kembali pulang ke rumah meninggalkan Vivi seorang diri... Hatinya bersenandung . . . .
      “ Aku ingin sedikit lebih lama disini . . . “ ucapnya sambil memandang wajah Vivi yang begitu manis baginya walau dikala mereka bercanda Ia selalu mengejek Vivi Si Nenek Kempong, dan begitu juga dengan Vivi yang mengejek Jujung Si Kakek Peot. Sering kali Vivi marah dan melapor kepada Ibu Jujung membuat sang Ibu menjitak kepala si Jujung. Tapi semua itulah yang membuat ikatan dikeduanya.
      “ Ya aku ingin . . . .” batinnya dalam hati seraya menundukan kepala.
      “ A, aku be, begitu Yaa . . . aku ingin lebih lama bersamamu Vi . . . belum sempat ku utarakan kepadamu apa yang selama ini aku rasakan Vi. . . ka, kalau sebenarnya mungkin aku begitu sangat menyayangimu . . . padahal seharusnya sekarang kamu ikut dengan aku ke denpasar dan mencari kehidupan yang lebih baik nan bahagia karena aku ingin sekali membuat kamu bahagia Vi . . .”
Benar!!! Laki - laki dimakam itu tak lain dan tak bukan adalah Jujung .
Siang itu, Sesudah malam saat jujung melihat vivi makan ikan bakar untuk yang terakhir kalinya, Vivi mengalami kecelakaan.
Tepat didepan toko boneka Barbie itu berdiri ia melihat sangat banyak sekali boneka Barbie yang dipajang disisi kaca toko tersebut, perlahan ia berjalan dengan berat tanpa memperhatikan kiri kanan jalan, tiba-tiba dunia berputar dengan kencang, badannya roboh tak tersadarkan dan dari arah kiri melesat Bus dengan kecepatan tinggi dan menindas kepala Vivi hingga akhirnya Vivi tewas ditempat dengan keadaan yang mengenaskan.
“Setiap saat berada dimakammu, membuat aku bisa lebih tenang dan tegar Vi, . . aku sudah belajar banyak dari dirimu andai saja aku bisa  . . . menukar tempatmu pasti akan aku lakukan.” tangis Jujung semakin menjadi.
“Oya, aku bawakan sesuatu yang pasti kamu suka deh Vi,” Dikeluarkannya dua Boneka Barbie yang selama ini dinginkan gadis pujaannya itu.
“gimana kamu suka kan? Ternyata selama ini kamu menginginkan ini ya? Aku tau dari Ara dan dia cerita banyak tentang ini, tapi kenapa kamu tidak pernah bilang ke aku Vi?? :’( lain kali kita makan ikan bakar lagi ya Vi? Kamu mau kan? Dan  Boneka ini yang akan temani kamu sekarang Vi, karena aku berniat akan ke denpasar hari ini juga. . . dan setidaknya kamu bisa tenang ya dialam sana sekarang, karena tidak ada lagi kakek peot kayak aku yang ganggu kamu . . .” sambil tersenyum dan mencium batu nisan Vivi.
“ Semoga kita bisa ketemu lagi ya Vi . . ?” sekali lagi jujung mencium batu nisan Vivi itu lalu ia pun pergi meninggalkan Vivi didalam makam itu seorang diri untuk selamanya, karena setelah dari makam dihari itu, ia mengalami kecelakaan dan tewas ditempat serta dengan cara yang sama yang dialami oleh Vivi...  Vivi is My Barbie.
TAMAT

0 komentar: